Sejumlah kecamatan yang ada di kota ini, rata-rata fenomena anak putus sekolah hampir merata terdapat dengan beragam sebab.
Secara psikologi, masih terdapat anak putus sekolah di Kota Padang sebagai daerah ibukota provinsi Sumatera Barat, cenderung-faktor ekonomi, anak terpengaruh dengan kemalasan untuk bersekolah, atau telah pandai mencari uang, membantu orang tua bekerja.
Perihal ini, kata Yovi, berasal dari semua kalangan dan latarbelakang kehidupan sosial orangtua anak.
“Anak putus sekolah bukan saja disebabkan faktor kemiskinan, tetapi juga atas kurangnya minat anak melanjutkan pendidikan. Paling mendasar sekali disebabkan anak putus sekolah memang lebih dominan atas ketidaksanggupan orangtua anak membiayai pendidikan dengan keperluan yang kompleksitas,” jelas Yovi Krislova.
Berdasarkan ini pula, Pemerintah Kota (Pemko) Padang, sangat hati-hati menyikapinya, sebagai upaya anak yang sedang bersekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah agar tidak putus sekolah lagi.
Karena masih terdapat 50 persen dari peserta pendidikan yang sedang berjalan dengan status sosial orangtua anak kurang mampu secara ekonomi.
“Kini, Pemko Padang tak tinggal diam, dengan menganggarkan sebanyak Rp 18 miliar buat beli seragam pakaian sekolah bagi anak kurang mampu memperoleh sehelai baju, baik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah pertama, rata-rata mengalami persentase yang sama,” pungkas H. Yovi Krislova, menginformasikan di sela-sela kesibukannya.
(Obral)
