Berita

Puluhan Rumah Terancam Kikisan Sungai Lekso, BBWS Janji Segera Lakukan Normalisasi

169

Mjnews.id – Warga Kelurahan Babadan, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, diliputi kekhawatiran akibat kondisi Sungai Lekso yang terus mengikis bantaran dan mendekati permukiman. Sedikitnya puluhan rumah warga kini berada di zona rawan longsor, sehingga normalisasi sungai dinilai sebagai langkah mendesak untuk menjamin keselamatan masyarakat.

Perwakilan warga Babadan, Mustofa (45), mengatakan kondisi tersebut sudah sangat mengkhawatirkan. Sungai yang sebelumnya menjadi sumber manfaat bagi masyarakat, kini justru berubah menjadi ancaman.

ADVERTISEMENT

“Ini menyangkut keselamatan masyarakat. Sungai Lekso dulu sangat bermanfaat, tetapi sekarang alirannya mengikis bantaran dan mengancam rumah serta keselamatan warga,” ujarnya pada Selasa, 10 Februari 2026, seusai audiensi dengan komisi 3 di gedung DPRD kabupaten Blitar.

Menurut Mustofa, aspirasi normalisasi sungai sudah disampaikan sejak beberapa tahun lalu melalui berbagai jalur. Namun karena kewenangan berada di Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), proses penanganan memerlukan koordinasi lintas instansi.

“Alhamdulillah, aspirasi warga sudah disampaikan melalui dewan, dan OPD terkait juga hadir. Semua sepakat bahwa ini kondisi darurat yang harus segera ditangani. Hari ini lokasi juga langsung ditinjau,” katanya.

Ia menjelaskan, pengikisan terjadi cukup parah. Arus Sungai Lekso yang deras tidak hanya meluap, tetapi juga menggerus tanah di tepi sungai hingga menyebabkan longsor. Banyak rumah yang berdiri di atas bantaran kini berada dalam ancaman.

“Jarak sungai dengan rumah warga sudah sangat dekat, bahkan ada yang sudah masuk halaman. Di atas bantaran itu sudah banyak rumah, jadi ancamannya sangat nyata,” ungkapnya.

Berdasarkan pengamatan warga, pengikisan tebing sungai diperkirakan sudah mencapai sekitar 150 hingga hampir 200 meter dari posisi alur semula. Wilayah yang terdampak meliputi beberapa kelurahan, seperti Babadan, Beru, Tanggul, hingga ke arah selatan. Namun yang paling rawan saat ini berada di Kelurahan Babadan, dengan sekitar 50 kepala keluarga berada di zona ancaman. Jika dihitung sepanjang bantaran, jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 100 kepala keluarga.

Sementara itu, pihak BBWS memastikan akan segera menindaklanjuti keluhan warga. Ariyanto selaku PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) OP Japanan 2 BBWS mengatakan pihaknya telah menerima laporan dan langsung turun ke lapangan bersama instansi terkait.

“Kemarin kami sudah menyampaikan surat, dan hari ini kami bersama BBWS dan Dinas PU meninjau langsung lokasi yang dikeluhkan masyarakat. Mudah-mudahan ke depan ada tindak lanjut agar masyarakat bisa tenang,” ujarnya.

Menurutnya, normalisasi akan difokuskan pada pengembalian alur sungai seperti semula, sekaligus pembangunan tanggul untuk melindungi permukiman.

“Prinsipnya normalisasi ini untuk mengembalikan alur sungai seperti semula dan membuat tanggul, agar masyarakat merasa aman. Untuk teknis pelaksanaannya, kita lihat dulu kondisi lapangan,” jelasnya.

Terkait penyebab kerusakan, Ariyanto menilai faktor alam menjadi salah satu penyebab utama, terutama karena cuaca ekstrem dalam beberapa waktu terakhir.

“Sungai itu sifatnya hidup, alirannya bisa berubah mengikuti kondisi. Apalagi belakangan ini cuaca cukup ekstrem, sehingga banyak kejadian banjir,” pungkasnya. (*)

Exit mobile version