Mjnews.id – Masih dalam gema peringatan Hari Lahir ke-66 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada 17 April, kader PMII Tanjungpinang–Bintan tidak larut dalam euforia semata. Justru, momentum ini menjadi panggilan perlawanan untuk membongkar kebusukan yang selama ini disembunyikan dalam tubuh organisasi.
“Kita tidak perlu melihat keluar untuk mencari musuh. Musuh terbesar hari ini justru ada di dalam. Ketika struktur yang seharusnya menghidupkan gerakan, malah menjadi aktor yang mematikan denyut kaderisasi,” kata Wakil Ketua 1 Salman Alfarisi, Selasa 21 April 2026.
Menurut Salman, pengurus Koordinator Cabang PMII Kepulauan Riau hari ini tidak lebih dari simbol kekuasaan kosong. Alih-alih menjalankan fungsi koordinasi dan distribusi peran, PKC justru sibuk mengklaim gerakan atas nama kader se-Kepri tanpa kontribusi nyata. Ini bukan sekadar kelalaian, ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap ruh perjuangan PMII.
“Lebih ironis lagi, ketika cabang-cabang berjuang dengan segala keterbatasan, PKC justru mempertontonkan gerakan yang minim substansi. Mereka bisa berziarah kepada yang telah mati, tetapi dalam saat yang sama, mereka “mematikan” cabang-cabang yang masih hidup. Ini bukan lagi soal salah arah , ini adalah kemunduran moral organisasi,” ujar Salman.
Di tengah carut-marut ini, peran perwakilan PMII Kepulauan Riau di tingkat Pengurus Besar (PB) pun tidak menunjukkan arah yang lebih baik. Alih-alih menjadi jembatan strategis yang membawa gagasan besar dan arah gerak yang progresif dari pusat ke daerah, mereka justru tampil layaknya gerak sporadis ala kader tingkat rayon minim dampak, tanpa visi, dan kehilangan orientasi perjuangan. Kehadiran mereka di PB seharusnya menjadi energi penggerak bagi konsolidasi dan penguatan struktur di daerah, bukan sekadar simbol representasi tanpa substansi.
Jika pusat saja gagal memancarkan arah yang jelas melalui perwakilannya, maka wajar jika kebingungan dan stagnasi semakin mengakar di tingkat daerah. Ini bukan hanya soal ketidakefektifan, tetapi kegagalan menjalankan mandat perjuangan secara menyeluruh.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang hancur bukan hanya struktur, tetapi masa depan kaderisasi di Kepulauan Riau.
Seruan kader PMII Tanjungpinang–Bintan
Oleh karena itu, kader PMII Tanjungpinang–Bintan menyerukan:
1. Hentikan klaim sepihak atas nama kader se-Kepri!
2. Kembalikan fungsi PKC sebagai penggerak, bukan penghambat!
3. Bangun kembali kepercayaan dengan kerja nyata, bukan simbolisme!
“Kami juga mengajak seluruh kader, khususnya di Karimun, untuk bersatu dalam barisan refleksi dan perlawanan. Harlah ini harus menjadi titik balik atau kita akan menyaksikan organisasi ini runtuh dari dalam oleh mereka yang seharusnya menjaganya,” tegas Salman Alfarisi.
(*/isb)
