BeritaKabupaten Dharmasraya

Malam Penuh Empati di Tengah Malam Dharmasraya, Ketika Film Dokumenter Luka Papua Menampar Mahasiswa

32
HMI Cabang Dharmasraya nonton bareng film dokumenter

Mjnews.id – Malam di sebuah sudut kedai kopi di Pulau Punjung itu awalnya tampak biasa saja. Cangkir-cangkir kopi tersusun di meja, obrolan kecil terdengar samar, dan para mahasiswa duduk bersila menghadap layar putih sederhana. Namun ketika film dokumenter “Pesta Babi, Kolonialisme di Zaman Kita” mulai diputar, suasana perlahan berubah hening.

Tak ada lagi suara senda gurau. Mata puluhan mahasiswa dan aktivis pemuda itu terpaku pada gambar demi gambar tentang hutan adat Papua Selatan, tentang masyarakat yang bertahan di tanah leluhur mereka, dan tentang ketakutan kehilangan ruang hidup akibat ekspansi industri berskala besar.

ADVERTISEMENT

Minggu malam (17/5/2026), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Dharmasraya bukan sekadar menggelar nonton bareng. Mereka menghadirkan ruang perenungan.

Bertempat di Tren Copi, Pulau Punjung, kegiatan tersebut dihadiri berbagai Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) serta mahasiswa dari berbagai kampus di Dharmasraya. Mereka datang bukan hanya untuk menonton film dokumenter, melainkan untuk mendengar suara-suara yang selama ini terasa jauh dari Sumatera Barat, suara masyarakat adat Papua.

Nonton bareng HMI Cabang Dharmasraya. (f/ist)

Ketua Umum HMI Cabang Dharmasraya, Nanda Arfalia Putra, mengatakan kegiatan itu sengaja dihadirkan sebagai ruang edukasi sekaligus upaya membangun kesadaran kritis generasi muda terhadap persoalan bangsa.

Menurutnya, film “Pesta Babi” bukan hanya bicara tentang Papua, melainkan tentang wajah Indonesia hari ini.

“Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi dan gambaran nyata mengenai kondisi negara kita saat ini. Kita sudah merdeka, namun ironisnya masih ada saudara kita yang dijajah oleh bangsanya sendiri,” ujar Nanda di sela diskusi.

Film dokumenter tersebut memotret perjuangan masyarakat adat Papua Selatan mempertahankan hutan dan tanah leluhur mereka dari cengkeraman proyek agroindustri. Visual yang ditampilkan terasa mentah dan jujur. Hutan yang dibuka, tanah adat yang perlahan hilang, hingga wajah-wajah warga yang bertahan di tengah tekanan menjadi pemandangan yang sulit diabaikan.

Beberapa peserta tampak terdiam lama setelah film selesai diputar.

Tamparan keras bagi gerakan mahasiswa Dharmasraya

Diskusi kemudian berjalan hangat. Satu demi satu peserta mulai menyampaikan pandangan mereka. Ada yang berbicara tentang ketimpangan pembangunan, ada pula yang menyinggung bagaimana masyarakat adat sering kalah di hadapan kepentingan modal.

Di antara suara-suara itu, tanggapan Sekretaris PMII Dharmasraya, Suhendri, terdengar paling emosional. Dengan nada tegas, ia menyebut film tersebut sebagai tamparan keras bagi gerakan mahasiswa.

“Film ini begitu penting bagi kita semua. Ini adalah tamparan keras bagi kita selaku aktivis atas kezaliman yang menimpa warga Papua Selatan, di mana tanah adat mereka dirampas demi kepentingan industri,” katanya.

Exit mobile version