Hingga 2026, sebanyak 164 warisan budaya takbenda asal Sumbar telah ditetapkan sebagai WBTBI sejak program tersebut dimulai pada 2013. Sebelumnya, pada 15 Desember 2025, Menteri Kebudayaan RI juga telah menyerahkan 37 sertifikat WBTBI kepada Pemprov Sumbar.
Mahyeldi mengingatkan, penetapan sebagai WBTBI bukanlah akhir dari proses pelestarian. Pemerintah daerah bersama masyarakat sebagai pemilik budaya perlu melanjutkannya melalui pewarisan, regenerasi, pembinaan, pengembangan, hingga pemanfaatan agar warisan tersebut tetap hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Pada penyerahan kali ini, Kota Padang menerima WBTBI Anyang Rawan, Sipasan, dan Silek Pauah. Kabupaten Padang Pariaman menerima Indang Tigo Sandiang, Maniliak Bulan, dan Malacuik Marapulai, serta Cagar Budaya Makam Syekh Burhanuddin.
Kabupaten Solok Selatan menerima Pongek Pisang, Saluang Panjang, dan Tari Indang Tagak Baringin Sakti. Tanah Datar menerima Alu Katentong, Sulaman Banang Ameh Sungayang, dan Tingkuluak Balapak, serta Cagar Budaya Benteng Van der Capellen. Pasaman Barat menerima Ma Apam dan Tari Salapan Ala Bangih.
Kota Bukittinggi menerima Border Karancang Bukittinggi, serta Cagar Budaya Jam Gadang dan SMA Negeri 2 Bukittinggi (Sekolah Rajo). Pesisir Selatan menerima Marapulai Basuntiang dan Manjalang Rumah Gadang Mande Rubiah, sedangkan Kabupaten Solok menerima Samba Itam, Balota Palapah Pisang, dan Randai Ilau.
Sijunjung menerima Talempong Kayu, Gulai Umbuik Batang Pisang, Randai Ilau, dan Rimbo Larangan Paru. Dharmasraya menerima Lubuk Larangan Nagari Lubuk Karak serta Cagar Budaya Percandian Pulau Sawah. Kepulauan Mentawai menerima Sagu Kapurut, Otcai, Toek, dan Subbet.
Selanjutnya, Kabupaten Agam menerima Talempong Uwaik-Uwaik. Padang Panjang menerima Dendang Gunuang dan Tari Piriang Suluah. Lima Puluh Kota menerima Pongek Limbonang dan Nolam Talang Malia. Pasaman menerima Mandoa Surau Batu, sedangkan Sawahlunto menerima Kuda Kepang Sawahlunto Bakaru Nagari Kajai.
Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Syaiful Bahri, mengatakan pemajuan kebudayaan ditempatkan sebagai salah satu fondasi pembangunan karakter bangsa sekaligus penguatan identitas daerah.
“Tagline kami adalah Merawat Tradisi, Menjaga Jati Diri. Lapuak-lapuak dikajani, usang-usang dipabaharui, warih dijawik dek nan mudo,” kata Syaiful.
Selain penyerahan sertifikat, kegiatan tersebut juga diisi dengan kajian kuratorial Museum Adityawarman. Kajian diarahkan untuk memperkaya narasi sejarah dan tata pamer museum agar lebih menarik, komunikatif, dan relevan bagi generasi muda.
