Kemensos

Mensos Paparkan Strategi Multisektor Tangani Kebutaan di Indonesia

485
Mensos Paparkan Strategi Multisektor Tangani Kebutaan di Indonesia
Mensos, Tri Rismaharini Paparkan Strategi Multisektor Tangani Kebutaan di Indonesia. (f/humas)

Mensos juga menambahkan, ternyata penyakit katarak dan penyakit mata tidak hanya dialami oleh orang tua atau lansia. Penyakit ini bisa terjadi pada anak-anak.

Pernyataan ini dibenarkan oleh Ketua Pengurus Pusat Perdami, Budu. Faktor penyebab kebutaan pada anak lebih banyak oleh karena masalah penggunaan kacamata.

ADVERTISEMENT

“Jadi anak-anak kita itu kan ada yang berkacamata minus tinggi dan lain sebagainya. Sejak lahir ada juga faktor-faktor keturunan atau kebiasaan-kebiasaan yang menjadi penyebab mereka butuh bantuan penglihatan melalui kacamata. Nah kalau kita tidak berikan bantuan seperti itu mereka tidak bisa membaca, tidak bisa bergaul, tidak bisa belajar,” ungkap Budu.

Data WHO menyebutkan, 12 orang buta per menit (60 detik) di Dunia. Di Indonesia sekitar 1 orang buta setiap menitnya. Namun begitu, 80% dapat dihindari dengan pencegahan dan pengobatan. Di Sulawesi Selatan, sebanyak 2,6% penduduknya mengalami situasi kebutaan dan gangguan penglihatan.

“Jadi yang 2,6 persen kebutaan itu terus kita lakukan screening. Kita mencari orang-orang yang disability dengan penglihatan kemudian dilakukan operasi. Maka yang paling penting adalah mencegah mereka agar tidak menjadi buta,” kata Budu.

Acara yang diselenggarakan oleh Perdami Cabang Sulawesi Selatan bersama dengan Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin ini mengusung tema Sight is Human Rights.

Tujuan acara ini untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dasar para dokter umum/general practitioner serta dokter spesialis mata terhadap skrining, diagnosis, dan penanganan awal penyakit mata khususnya penyakit yang menyebabkan gangguan penglihatan.

(rel)

Exit mobile version