Di belakang halaman masjid, KPAI menjumpai ada 4 anak perempuan dan 1 laki laki yang sedang bermain. Mereka menyampaikan keluhan bau di sekolah dan rumah. Mereka dengan spontan meminta agar bau itu tidak datang lagi.
Ada 3 video yang dikirim FKDM Rorotan, pertama video anak anak yang sedang belajar di sekolah negeri dengan menutup hidungnya dan menunjukkan rasa tidak nyaman, kedua anak kelas 3 dari sekolah MI Al Falah yang menyatakan bau dan tidak menyukainya, sedangkan ketiga sepasang suami istri menyatakan bau tidak sedap dari pekarangan rumahnya, yang terus terjadi setiap sore dan malam hari.
Dari pertemuan tersebut, KPAI cukup prihatin apa yang di alami warga, terutama bayi, balita dan anak anak. Para orang tua sambil membawa anak menyampaikan apa yang mereka rasakan. Tak hanya menyampaikan kondisi, mereka juga melengkapinya dengan bukti rekam medis, untuk meyakinkan.
Salah satu warga yang berprofesi sebagai dokter, di lokasi menyatakan, saat mereka membuka duren di teras rumah, debu-debu langsung menempel di buah duren, sehingga nampak jelas abu yang diduga bekas pembakaran sampah yang menimbulkan bau tersebut.
Ia meminta agar alat ukur kualitas udara yang dimiliki warga, yang menunjukkan indikator warna orange dan ungu dapat dibandingkan dengan alat ukur kualitas udara yang dimiliki RDF, agar petugas benar-benar mau memperhatikan gejala ISPA yang terjadi.
Seorang RT dari Karang Tengah inisial E menyampaikan, kalau warganya sakit ke bidan, puskesmas jauh, adapun dengan bau menyengat, anak anak mengeluh tidak punya nafsu makan, mata perih, batuk, tenggorokan tidak nyaman serta mual. Hanya karena mereka warga kampung dan akses kesehatan jauh, sehingga tidak terbiasa untuk melakukan periksa lanjutan, sehingga sangat berbeda dengan anak anak yang terdampak di kompleks, yang langsung dibawa ke rumah sakit.
Memang kalau dengar cerita dari para ibu yang berkumpul di JGC, dampak bau sangat menyengat, meski semua ditutup, masih masuk rumah. Akhirnya semua celah pintu dan jendela yang masih bisa masuk bau (ditutup) warga. Namun mereka khawatir anak anak mengalami alergi.
Memang dari yang diadukan masyarakat, dampak bau hasil pembakaran itu berkepanjangan untuk bayi, anak anak, perempuan, lansia, sekolah, dan fasilitas publik. Seperti anak anak yang tidak bisa bermain karena bau tak sedap yang menyengat, kondisi bolak balik rumah sakit selama 2 bulan yang dialami anak anak dan orang tua, lansia mereka yang mengeluhkan bau dan berdampak pada kesehatan. Karena ujungnya semua aktivitas jadi terganggu.
Dalam laporan warga, sebelumnya warga komplek tidak pernah demo, namun karena para ibu yang paling merasakan terbebani berlapis atas kondisi rumah, sehingga saat demo terjadi, justru paling banyak dihadiri para perempuan.
Dari pertemuan tadi, mereka meminta agar persoalan ini tidak hanya dilihat pada aspek ekonomi, namun juga lebih fokus pada kondisi kemanusiaan yang semakin luas dampaknya. Bahwa hak sehat dan menghirup udara segar adalah hak publik. Sehingga warga memohon KPAI juga menyampaikan kondisi tersebut kepada Komnas HAM dan Komnas Perempuan.
