Teknologi ini bisa menjadi pintu awal bagi mereka yang enggan berkonsultasi dengan psikolog, meskipun tentu tidak bisa menggantikan peran profesional manusia. Potensi AI dalam membantu kesejahteraan mental masih besar, asalkan diarahkan dengan benar.
Masalahnya, orientasi utama sebagian besar platform media sosial saat ini bukanlah kesejahteraan pengguna, melainkan lamanya waktu layar. Setiap detik perhatian pengguna berarti keuntungan bagi perusahaan. Maka, sistem AI dirancang untuk membuat orang betah berlama-lama dengan cara memancing emosi — entah lewat konten lucu, mengharukan, atau bahkan kontroversial.
Pola ini membentuk siklus yang sulit diputus: pengguna semakin terikat, tetapi sekaligus semakin rentan terhadap tekanan emosional.
Lalu, apa yang bisa dilakukan?
Pertama, pendidikan literasi digital perlu diperkuat sejak dini. Anak muda harus diajarkan untuk mengenali cara kerja algoritma, mengatur waktu penggunaan gawai, dan memahami dampak psikologis dari konsumsi konten berlebihan.
Kedua, perusahaan teknologi perlu mulai menerapkan prinsip well-being by design, misalnya melalui fitur jeda otomatis, batas waktu harian, atau pilihan feed netral yang tidak hanya menampilkan konten berdasarkan interaksi pengguna.
Ketiga, pemerintah dan akademisi perlu mendorong adanya regulasi transparansi algoritma serta audit terhadap dampak psikologis sistem AI, khususnya pada pengguna remaja.
AI bukanlah ancaman yang harus dimusuhi, melainkan alat yang perlu dikendalikan secara etis. Generasi Z berada di persimpangan penting: di satu sisi mereka menjadi penerima manfaat utama dari kemajuan teknologi, namun disisi lain juga paling rentan terhadap dampak emosionalnya.
Tantangan kita hari ini adalah memastikan bahwa teknologi pintar tidak membuat penggunanya kehilangan kendali atas pikiran dan perasaannya sendiri.
Penulis, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas (Unand) Padang
(*)
