Di balik hamparan Bukit Barisan yang memagari Nagari Padang Laweh, hidup sebuah cerita yang tumbuh perlahan—seperti padi yang menetas dari benih, merambat, dan akhirnya menguning.
Oleh: Tri Maiko Wahyu, S.I.Kom
Mjnews.id – Tanahnya subur, airnya jernih, dan anginnya berhembus tenang menyentuh sawah-sawah yang memanjang sejauh mata memandang. Di nagari yang sejuk ini, budaya tidak sekadar warisan, tetapi napas kehidupan.
Pada pagi hari, suara ayam dan gemericik selokan berbaur dengan riuh tawa warga yang turun ke sawah. Mereka tidak pernah sendiri.
Mereka membawa cangkul, membawa bekal, dan yang paling penting—membawa semangat kebersamaan yang sejak dulu tidak pernah padam.
Masyarakat menyebutnya batoboh, gotong royong khas Padang Laweh yang bukan hanya kegiatan bertani, tetapi juga perayaan sederhana tentang hidup.
Dalam batoboh, tidak ada yang dihitung-hitung. Tidak ada upah. Tidak ada permintaan balas jasa. Yang ada hanyalah kerelaan, tawa, dan percakapan yang kadang tenggelam dalam pantun yang bersahut-sahutan.
Dari kebiasaan bernyanyi dan berpantun inilah lahir sebuah tradisi kecil yang kemudian menjadi besar, yakni baombai.
Kemudian, dilestarikan tari baombai oleh maestro Gusnimar dan Nurtini di Jorong Koto, Nagari Padang Laweh, Kecamatan Koto VII.
Saat tampil pada Festival Matrilineal yang diselenggarakan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah 3 Sumatera Barat berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Sijunjung. Kesenian tari baombai tampil memukau di hadapan para penonton di Perkampungan Adat Sijunjung, Jumat (21/11/2025) malam.
Konon, cerita turun-temurun menyebutkan bahwa dulu, ketika para petani beristirahat di dangau sawah, terdengar nyanyian dan suara cangkul yang bekerja sendiri dari arah yang tak terlihat.
Entah siapa pelakunya, entah dari mana datangnya. Suara itu kemudian ditiru, dinikmati, dan diwariskan.
Lalu, muncullah tradisi bernyanyi saat bekerja di sawah—tradisi yang kemudian menjelma menjadi tarian.
Dan begitulah Tari Baombai lahir, tidak dari studio tari atau panggung megah, melainkan dari tanah sawah yang basah, dari tawa petani, dari jerih payah mereka yang sehari-hari mengolah bumi.
