Bantuan Tim Safari Ramadan untuk Masjid Nurul Falah
Tim Safari Ramadan menyerahkan bantuan uang tunai sebesar Rp10 juta, mushaf Alquran, dan tikar salat untuk masjid. Penyerahan itu disaksikan camat, wali nagari, dan jemaah tarawih yang berdiri dengan mata berbinar.
Bagi sebagian orang, angka sepuluh juta mungkin tak seberapa. Tetapi bagi pengurus Masjid Nurul Falah yang selama ini menghitung iuran dengan cermat untuk membayar listrik dan memperbaiki atap bocor, bantuan itu adalah napas tambahan. Mushaf-mushaf baru berarti anak-anak mengaji tak lagi bergantian dengan lembaran usang. Tikar-tikar salat baru berarti dahi yang bersujud akan menyentuh alas yang lebih layak.
Di sudut masjid, seorang lelaki tua menatap penyerahan bantuan itu dengan mata berkaca-kaca. Ia mungkin tak peduli pada rumusan visi-misi. Yang ia tahu, masjid tempat ia bersujud sejak muda kini mendapat perhatian.
Ramadan memang selalu menghadirkan suasana berbeda. Ia melembutkan hati yang keras, merapatkan jarak yang renggang. Tausiah yang disampaikan Ustaz Tarmizi malam itu mengingatkan jemaah untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat ukhuwah Islamiah dan memperkokoh silaturahmi.
Kata-kata itu seperti mengalir menyatu dengan suasana. Anak-anak terdiam. Para ibu menyeka air mata. Para bapak menunduk khusyuk.
Di luar Masjid Nurul Falah, malam kian larut. Tetapi cahaya dari Nurul Falah masih menyala terang. Ia bukan sekadar cahaya lampu, melainkan cahaya harapan bahwa pemerintah dan rakyat bisa duduk bersama tanpa sekat, bahwa pembangunan bukan hanya angka dalam laporan, melainkan rasa yang sampai ke dada.
Safari Ramadan mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun bagi warga Candra Kirana, kehadiran itu meninggalkan jejak yang lebih lama: rasa diperhatikan, rasa diakui, rasa menjadi bagian dari Dharmasraya yang ingin tumbuh bersama.
Di bulan yang suci ini, mungkin yang paling dibutuhkan bukan hanya bantuan materi, melainkan keyakinan bahwa di antara saf-saf salat, tak ada jarak antara pemimpin dan yang dipimpin. Dan malam itu, di Masjid Nurul Falah, jarak itu terasa begitu dekat.
(Sutan)
