Mjnews.id – Ketulusan seorang amil yang melihat kebutuhan sebelum ada permohonan, menjadi cermin bagaimana zakat sejatinya bekerja lembut namun penuh cahaya.
Di bawah terik siang yang menyengat, suara deru becak motor terdengar lirih melewati halaman kantor Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Dharmasraya. Di atas becak tua itu, seorang ayah tampak menurunkan anaknya yang baru pulang sekolah. Atap becak yang hampir roboh, penyanggahnya sudah berkarat dan goyah seolah mencerminkan beratnya perjuangan hidup sang pengemudi yang tetap tersenyum di tengah keterbatasan.
Dari kejauhan, sosok Ridwan Syarif, S.Ag, Datuak Majo Kayo, komisioner bidang pengumpulan BAZNAS Dharmasraya, memperhatikan dengan mata teduh. Di sela perdebatan hangat bersama rekan sejawatnya di warung kecil samping kantor, langkahnya tiba-tiba terhenti. Ia bangkit, menghampiri pengemudi becak motor itu tanpa pikir panjang.
“Apak masih punyo KTP?… Bueklah permohonan ke BAZNAS ya, pak. Perlu biaya perbaikan becak untuk ngantar anak sekolah, nanti awak bantu. Datanglah besok, ya wak tunggu apak,” ucapnya dengan nada lembut namun penuh empati.
Tak ada kamera, tak ada protokol, tak ada panggung. Hanya percakapan sederhana di pinggir jalan yang menyisakan makna dalam inilah wajah sejati dari zakat yang hidup dalam aksi, bukan sekadar angka.
“Zakat itu cahaya yang menerangi jalan kehidupan, baik bagi muzaki maupun mustahiq. Ia mempererat hubungan manusia melalui kasih sayang dan kepedulian, sekaligus menjadi jalan menuju ridha Allah,” terang Ridwan Syarif Datuak Majo Kayo, Wakil Ketua I Bidang Pengumpulan ZIS Baznas Dharmasraya.
Beliau melanjutkan, bahwa zakat bukan hanya kewajiban ibadah finansial, tetapi juga alat sosial untuk membangun masyarakat yang harmonis, adil, dan sejahtera.
“Sungguh, di dalam zakat itu terdapat keajaiban yang membawa berkah bagi dunia dan akhirat,” ujarnya saat ditemui media Mjnews.id, Selasa 14 Oktober 2025, di sela-sela diskusi ringan di Warung Susi, Jorong Parik Tarajak, Nagari Sikabau, Kecamatan Pulau Punjung.
Baznas Dharmasraya, lanjutnya, ingin menjadi lembaga yang tidak hanya menunggu proposal bantuan datang, tapi aktif mencari mereka yang pantas dibantu mereka yang kadang terlalu malu atau tak tahu cara meminta.
“Itu sebabnya, amil zakat perlu peka. Karena di situlah nilai ibadahnya. Kita tidak sekadar menyalurkan dana, tapi menghadirkan kasih Allah melalui empati dan tindakan nyata,” katanya.
