Bagi Baznas Dharmasraya, pelatihan semacam ini bukan hanya tentang teknis keagamaan, melainkan juga investasi moral jangka panjang. Di tengah generasi yang sibuk mengejar dunia, hadirnya anak muda yang mau belajar tentang fardhu kifayah adalah tanda bahwa nilai-nilai sosial Islam masih berdenyut kuat di akar masyarakat.
“Kita ingin anak muda tidak hanya cerdas dalam hal teknologi, tapi juga peka terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Mengurus jenazah adalah bagian dari membangun empati tentang menghormati hidup dan kematian,” tutur Ridwan menambahkan.
Menutup kegiatan, suasana haru terasa ketika para peserta diminta mempraktikkan prosesi penyelenggaraan jenazah. Beberapa dari mereka terlihat menunduk, mata berkaca-kaca, seolah diingatkan bahwa hidup ini sementara.
Dari pelatihan sederhana itu, Baznas Dharmasraya seolah menyalakan kembali lentera kecil di hati generasi muda bahwa menjadi berguna bukan hanya soal prestasi dunia, tetapi juga tentang keberanian menghadapi kematian dengan cinta dan pengabdian.
(ssa)
