BeritaKabupaten Dharmasraya

Dies Natalis ke-79 HMI Dharmasraya: Antara Tradisi Pengkaderan dan Tantangan Mahasiswa di Tengah Sunyinya Kritik Sosial

443
Dies Natalis ke-79 HMI Dharmasraya
Dies Natalis ke-79 HMI Dharmasraya. (f/sutan sari alam)

Mjnews.id – Peringatan Dies Natalis ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Dharmasraya seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni organisasi, namun terus menjaga sikap kritis di tengah situasi sosial-politik daerah yang kerap diwarnai lemahnya kontrol masyarakat terhadap kebijakan.

Momentum ini justru menjadi cermin, sejauhmana mahasiswa masih berani menjaga fungsi kritisnya di tengah masyarakat.

ADVERTISEMENT

Melalui kegiatan Basic Training Latihan Kader 1 (LK 1) yang digelar 6–9 Februari 2026, HMI mencoba menjaga tradisi pengkaderan yang selama ini dikenal sebagai dapur lahirnya aktivis, pemikir, dan penggerak sosial.

Namun di tengah perubahan zaman, ketika banyak organisasi mahasiswa terjebak dalam rutinitas administratif dan kedekatan politik praktis, pertanyaan yang muncul bukan lagi seberapa ramai kegiatan dilakukan, melainkan seberapa tajam gagasan yang dilahirkan.

HMI sebagai organisasi yang berdiri sejak 5 Februari 1947 memiliki sejarah panjang dalam mengawal demokrasi dan menjaga suara kritis mahasiswa.

Di Dharmasraya, daerah yang sedang bergerak dalam pembangunan dan dinamika sosial, keberadaan kader mahasiswa justru sangat dibutuhkan untuk memastikan kebijakan publik tetap berpihak kepada masyarakat.

Malam penutupan kegiatan yang diisi dengan tradisi malam taaruf mempertemukan kader muda dengan alumni dan pengurus senior. Suasana keakraban terlihat melalui makan bersama dan diskusi lintas generasi.

Namun di balik suasana hangat tersebut, ada harapan besar agar kader tidak hanya menjadi pelengkap seremoni organisasi, tetapi mampu menjawab problem riil masyarakat mulai dari persoalan ekonomi nagari, konflik lahan, hingga akses pendidikan dan kesejahteraan pemuda daerah.

Ketua Umum HMI Cabang Dharmasraya, Nanda Arfalia Putra, dalam sambutannya menyampaikan harapan agar organisasi tetap tumbuh dan memberi manfaat bagi daerah. Ia juga mengajak kader mendoakan Lafran Pane sebagai pendiri organisasi yang mewariskan nilai keislaman dan kebangsaan.

Namun bagi sebagian pengamat mahasiswa, nilai tersebut hanya akan hidup jika kader berani berdiri di garis depan menyuarakan kepentingan masyarakat banyak, bukan sekadar menjaga citra organisasi.

Exit mobile version