PWI perlu mulai memikirkan pelatihan jurnalistik berkelanjutan, kerja sama profesional dengan perusahaan, kegiatan sosial, hingga program peningkatan kapasitas anggota yang benar-benar menyentuh kebutuhan wartawan di lapangan.
Apalagi tantangan media hari ini bukan hanya soal bertahan hidup, tetapi juga soal menjaga kepercayaan publik.
Di tengah maraknya media sosial, banjir informasi, dan disinformasi yang semakin sulit dibendung, masyarakat membutuhkan wartawan yang profesional dan berintegritas. Karena itu, rekam jejak calon ketua menjadi sangat penting.
Anggota tentu akan melihat, siapa yang selama ini aktif memperjuangkan UKW, siapa yang hadir ketika anggota mengalami persoalan hukum, dan siapa yang tetap berdiri bersama wartawan kecil ketika situasi sulit datang.
Pemimpin organisasi profesi tidak cukup hanya dikenal. Ia juga harus dipercaya.
Calon Ketua PWI Dharmasraya ke depan harus memahami perubahan dunia media
Yang tidak kalah penting, calon Ketua PWI Dharmasraya ke depan harus memahami perubahan dunia media. Pers hari ini tidak lagi hidup hanya dari berita cetak atau portal konvensional.
Artificial Intelligence (AI), monetisasi digital, verifikasi informasi, hingga perubahan pola konsumsi berita masyarakat menjadi tantangan nyata yang tidak bisa dihindari.
Jika organisasi gagal membaca perubahan itu, maka wartawan daerah akan semakin tertinggal.
Pada akhirnya, pemilihan Ketua PWI Dharmasraya periode 2026–2029 bukan sekadar memilih siapa yang paling senior atau paling populer. Ini tentang mencari nahkoda yang mampu menjaga marwah organisasi, memperkuat solidaritas wartawan, sekaligus membawa PWI tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Sebab di era yang serba sulit ini, organisasi profesi membutuhkan lebih dari sekadar nama besar.
Ia membutuhkan pemimpin yang mampu bekerja, merangkul, dan bertahan bersama anggotanya. (*)
