Mjnews.id – Pagi Sabtu 23 Mei 2026, aula pertemuan Polres Dharmasraya terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada wajah tegang aparat yang hendak menggelar operasi besar, tidak pula hiruk-pikuk masyarakat yang mengurus perkara hukum. Yang hadir justru para wartawan orang-orang yang sehari-hari lebih sering berdiri di balik kamera, menenteng buku catatan, mengejar narasumber, lalu pulang larut demi memastikan sebuah kabar sampai ke tengah masyarakat.
Di ruangan itu, mereka berkumpul dalam satu tujuan, menjaga rumah bernama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Dharmasraya agar tetap berdiri kokoh di tengah zaman yang terus berubah.
Konferensi Cabang (Konfercab) IV PWI Dharmasraya bukan sekadar agenda memilih ketua baru periode 2026–2029. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi ruang pembuktian bahwa organisasi wartawan masih memiliki denyut kehidupan, masih memiliki semangat persaudaraan, dan masih percaya bahwa pers adalah salah satu penyangga demokrasi di Ranah Cati Nan Tigo.
Suasana konferensi memang sempat berjalan alot. Perbedaan pandangan muncul di beberapa sisi, sebagaimana lazimnya sebuah organisasi yang hidup. Namun menariknya, perdebatan itu tidak berubah menjadi pertikaian. Tidak ada ego yang dibiarkan tumbuh terlalu tinggi. Yang terlihat justru kedewasaan para peserta dalam menjaga marwah organisasi.
Sebab mereka sadar, tantangan wartawan hari ini jauh lebih besar dibanding sekadar soal siapa yang duduk di kursi ketua.
Di tengah efisiensi anggaran, tekanan ekonomi media lokal, derasnya arus informasi digital, hingga menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap sebagian media, wartawan daerah sedang menghadapi ujian yang tidak ringan. Banyak media bertahan dengan napas pendek. Banyak wartawan bekerja dengan keterbatasan. Namun di tengah kondisi itu, PWI tetap dituntut hadir sebagai rumah besar yang menjaga profesionalisme dan solidaritas anggotanya.
Barangkali itulah sebabnya suasana badunsanak begitu terasa dalam konferensi tersebut.
Ketika akhirnya nama Roni Aprianto ditetapkan secara aklamasi sebagai Ketua PWI Dharmasraya periode 2026–2029, forum seakan menemukan titik teduhnya. Tidak ada riuh kemenangan yang berlebihan. Tidak ada wajah kalah dan menang. Yang ada hanyalah kesepakatan bersama bahwa organisasi harus tetap berjalan.
Kalimat yang disampaikan Yahya dalam forum itu terasa sederhana, namun memiliki makna mendalam.
“Semua ini bukan tentang kemenangan, tapi bagaimana menjaga marwah organisasi tiga tahun ke depan,” ucapnya
Ucapan itu seperti menjadi penegas bahwa konferensi bukan sekadar kontestasi. Ia adalah proses menjaga kehormatan profesi. Sebab wartawan bukan hanya pekerjaan mencari berita, melainkan tanggung jawab moral untuk menjaga kebenaran di tengah masyarakat.
