Mjnews.id – Bupati Sijunjung, Benny Dwifa Yuswir, menyambut hangat kunjungan Kepala Kantor Pelayanan Pangan Gizi (KPPG) Wilayah Riau, Kepulauan Riau, Jambi, dan Sumatera Barat, Dr. Syartiwidya, di kediaman dinas bupati, Kamis (23/4/2026).
Kunjungan tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus penguatan koordinasi antara KPPG dan Pemerintah Kabupaten Sijunjung dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Turut hadir dalam kesempatan itu Penjabat Sekretaris Daerah Jaheri, para Asisten lingkup Setdakab, sejumlah kepala OPD, Ketua DPW HMD Gemas Sumbar, Drs. H. Marlis, mitra yayasan program MBG, serta koordinator kecamatan (Korcam) dari Sijunjung dan Koto VII.
Dalam sambutannya, Bupati Benny Dwifa Yuswir menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra program MBG yang telah berkontribusi membangun dapur gizi di wilayahnya. Ia mengakui, pada awal pelaksanaan program, sempat muncul keraguan dari berbagai pihak.
“Dulu banyak yang tidak percaya program ini akan berjalan,” ujarnya.
Namun kini, Pemkab Sijunjung menyatakan komitmen penuh dalam mendukung program tersebut. Menurutnya, MBG tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi anak, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan kecerdasan generasi muda.
Program MBG sendiri merupakan salah satu program prioritas Presiden RI, Prabowo Subianto, yang dinilai memiliki dampak luas, termasuk dalam mendorong perputaran ekonomi masyarakat.
Kepala KPPG apresiasi pelaksanaan program MBG di Sijunjung
Sementara itu, Kepala KPPG Dr. Syartiwidya mengapresiasi pelaksanaan program MBG di Sijunjung yang sejauh ini berjalan tanpa laporan permasalahan berarti.
Ia menekankan pentingnya koordinasi rutin antara pemerintah daerah dan jajaran pelaksana di lapangan.
“Minimal korwil dan korcam berkoordinasi langsung dengan bupati atau sekda, dan melaporkan perkembangan MBG setiap minggu,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 33 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Sijunjung. Dengan jumlah tersebut, diperkirakan perputaran dana mencapai sekitar Rp33 miliar setiap bulan di daerah tersebut.
Lebih lanjut, Widya mengingatkan agar kualitas makanan tetap menjadi prioritas utama. Menu yang disajikan harus bergizi, bervariasi, dan menarik agar benar-benar dikonsumsi oleh para penerima manfaat.
Tak hanya itu, kebersihan dapur, pengelolaan limbah, serta pengawasan terhadap makanan yang kurang diminati anak-anak juga menjadi perhatian penting.
Program MBG ini, kata Widya, penerima manfaat tidak hanya siswa, ibu hamil dan menyusui, akan tetapi tenaga pendidik juga harus menerima manfaat.
Ke depan, KPPG berharap bahan baku makanan dapat dipasok dari masyarakat lokal. Dengan demikian, program ini tidak hanya meningkatkan gizi, tetapi juga memberdayakan petani, peternak, dan pelaku usaha setempat.
“Dengan melibatkan pelaku usaha lokal, program MBG akan menjadi penggerak roda perekonomian masyarakat,” pungkasnya.
(tri)
