BeritaKemenagKota Sawahlunto

FKUB Kota Sawahlunto Perkuat Koordinasi, Evaluasi dan Kolaborasi

23
FKUB Kota Sawahlunto menggelar rapat koordinasi dan evaluasi di Aula Kemenag
FKUB Kota Sawahlunto menggelar rapat koordinasi dan evaluasi di Aula Kemenag. (f/humas)

Mjnews.id – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Sawahlunto menggelar rapat koordinasi dan evaluasi, Kamis 7 Oktober 2026, di Aula Kemenag Kota Sawahlunto.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Sawahlunto Dr. H. Zulkifli, S.Ag., M.M., Kepala Kesbangpol yang diwakili Yufinarti Padma, S.E., Kasubbag TU Kemenag H. Mustatir, S.Pd.I., M.Pd., Ketua FKUB H. Zainul Arizal Dt. Bandaro Putih, S.H.I., serta anggota FKUB lainnya.

ADVERTISEMENT

Ketua FKUB Kota Sawahlunto, H. Zainul Arizal Dt. Bandaro Putih, S.H.I., dalam arahannya menyampaikan perlunya meningkatkan kegiatan dan publikasi FKUB agar keberadaan serta perannya semakin dikenal masyarakat.

Menurutnya, kegiatan FKUB selama ini masih kurang terangkat karena terbatasnya aktivitas yang dilaksanakan. Karena itu, keterlibatan wartawan dinilai penting untuk memperluas publikasi berbagai kegiatan FKUB.

Ia juga menyampaikan bahwa upaya mendapatkan dukungan melalui pokok-pokok pikiran (Pokir) anggota DPRD masih terus dilakukan, mengingat keterbatasan anggaran.

Selain itu, FKUB perlu merancang kegiatan yang menyasar generasi muda. Hal tersebut penting sebagai langkah pencegahan agar tidak terjadi gesekan antarumat beragama, termasuk tindakan saling menghina atau provokasi.

“Memang betul Sawahlunto aman dan harmonis, namun jika sekali terjadi gesekan, ini bisa menjadi heboh. Mari bersama kita jalin komunikasi. Jika ada yang sumbang, segera kita perbaiki bersama,” ujarnya.

Sementara Kakan Kemenag Kota Sawahlunto, Dr. H. Zulkifli, S.Ag., M.M., menekankan pentingnya FKUB bersama tokoh agama untuk terus memberikan pemahaman kepada umat masing-masing mengenai pentingnya menjaga kerukunan.

Menurutnya, kerukunan umat beragama merupakan hal mendasar dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang nyaman dan tenteram. Tidak ada ajaran agama yang menginginkan ketidakharmonisan maupun perpecahan.

“Kerukunan adalah fitrah manusia. Kita perlu meyakinkan umat masing-masing bahwa kita perlu hidup nyaman, jauh dari kecemasan dan ketakutan,” ungkapnya.

Exit mobile version