Sementara Wakil Bupati Solok, Candra, melaporkan, Program “Sawah Pokok Murah” berhasil meningkatkan panen dari 4–5 ton menjadi 6–7 ton per hektare.
“Pemkab Solok fokus pada dua sektor utama: pertanian dan pariwisata,” katanya.
Dijelaskan, target produksi padi tahun ini mencapai 316.000 ton, dengan 80 persen hasilnya membantu pasokan pangan daerah sekitar.
“Dengan kondisi itu Kabupaten Solok siap menjadi penyedia bahan baku dapur MBG (Makan Bergizi Gratis),” ujar Candra.
Lebih Hemat
Sementara Kabid Penyuluh Pertanian Kabupaten Solok, Mus Mulyadi, menjelaskan bahwa program Sekolah Lapang Tematik DAK 2025 dilaksanakan sebanyak 11 kali pertemuan di 14 kecamatan, terdiri dari 12 lokasi berbasis padi dan 2 lokasi berbasis sayur.
“Kegiatan ini kami kemas dalam konsep Sayur Pokok Murah (SPM). Di dalamnya, petani belajar menanam bawang merah secara mudah, murah, dan ramah lingkungan,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, penggunaan pestisida kimia berhasil ditekan lebih dari 50 persen, begitu juga dengan pengurangan pupuk kimia dan biaya penyemprotan.
“Yang menggembirakan, hasil panen justru naik hampir 24 persen dibandingkan sistem konvensional,” terangnya.
Peningkatan tersebut didukung penerapan teknologi sederhana, seperti retrek lampu perangkap hama malam hari dan pestisida nabati, serta sistem tanam jajar legowo 2:1 (jarwo 21) dan 4:1 (jarwo 41) sesuai SOP pertanian nasional.
(adpsb)
