BeritaSumatera Barat

Status Tanggap Darurat, 13 Daerah di Sumbar Terdampak Bencana Hidrometeorologi

240
Bencana banjir bandang di Sumatera Barat
Bencana banjir bandang di Sumatera Barat. (f/ist)

Mjnews.id – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) resmi menetapkan status tanggap darurat bencana alam menyusul meningkatnya dampak banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang di berbagai wilayah.

Keputusan ini dituangkan dalam Surat Keputusan Gubernur Nomor 360-761-2025 dan berlaku selama 14 hari, mulai 25 November hingga 8 Desember 2025, serta dapat diperpanjang sesuai perkembangan situasi.

ADVERTISEMENT

Penetapan status ini dilakukan setelah laporan menunjukkan sedikitnya 13 kabupaten dan kota terdampak bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem dalam beberapa hari terakhir.

Pemerintah menilai status tanggap darurat sangat diperlukan agar penanganan di lapangan dapat dilakukan secara lebih cepat, terkoordinasi, dan fleksibel, terutama dalam hal mobilisasi logistik, penggunaan alat berat, serta pengerahan tim SAR dan personel gabungan.

Pemprov Sumbar juga menegaskan bahwa status ini menjadi landasan untuk mengusulkan Dana Siap Pakai (DSP) kepada BNPB. Selama masa tanggap darurat, pemerintah memprioritaskan tujuh langkah penanganan, termasuk pengkajian cepat situasi dan kebutuhan di seluruh titik bencana, percepatan evakuasi, serta pemulihan akses dan layanan dasar.

Untuk memperkuat koordinasi, Kantor BPBD Sumbar ditetapkan sebagai Posko Tanggap Darurat sekaligus command center provinsi. Seluruh data, laporan kejadian, dan operasi lapangan akan dipusatkan di posko ini agar penanganan lintas kabupaten/kota dapat berjalan lebih terarah.

Bencana Alam Terparah di 2025

Juru Bicara BPBD Sumbar, Ilham Wahab, menyampaikan bahwa 13 daerah terdampak meliputi Kota Padang, Solok, Padang Panjang, Pariaman, Bukittinggi, serta sejumlah kabupaten seperti Solok, Padang Pariaman, Agam, Tanah Datar, Pesisir Selatan, Pasaman, Limapuluh Kota, dan Pasaman Barat.

Menurutnya, dampak bencana kali ini merupakan yang terparah sepanjang 2025, dengan total kerugian mencapai lebih dari Rp4,9 miliar.

Di Padang Pariaman, wilayah dengan dampak terberat, tercatat 3.326 rumah terendam dan 13 unit hanyut terbawa arus.

Sementara di Kabupaten Agam, longsor di beberapa titik menimbun badan jalan, mengancam permukiman, dan memaksa petugas melakukan evakuasi warga.

Pemerintah mengimbau masyarakat tetap waspada menghadapi potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi, serta segera melapor ke posko terdekat jika terjadi kondisi darurat.

(tri)

Exit mobile version