Wildan juga mengungkapkan Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Dharmasraya menjadi Sekolah Rakyat permanen pertama di Sumatera Barat, bukan sekolah rintisan. Pemerintah pusat menargetkan pembangunan 100 Sekolah Rakyat permanen setiap tahun hingga mencapai 500 sekolah pada 2029.
Di kesempatan yang sama, Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani menyebut kehadiran Sekolah Rakyat merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam memberikan kesempatan yang setara kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Ia mengungkapkan, tahun ajaran 2026/2027 diikuti sebanyak 390 siswa, terdiri dari 268 siswa asal Dharmasraya, 60 siswa dari Kabupaten Solok, 60 siswa dari Kota Padang, serta masing-masing satu siswa dari Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Bukittinggi.
Annisa juga menceritakan kisah seorang anak bernama Rehan yang baru mengenyam pendidikan di usia 10 tahun setelah diterima di Sekolah Rakyat. Baginya, kisah tersebut menjadi bukti bahwa program ini membuka kembali harapan bagi anak-anak yang sebelumnya kehilangan akses pendidikan.
“Inilah fungsi Sekolah Rakyat. Negara hadir memberi kesempatan yang sama kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu agar mereka bisa bermimpi menjadi orang sukses, memutus rantai kemiskinan, bahkan menjadi pemimpin bangsa di masa depan,” ujar Annisa.
Mengakhiri kegiatan, Mahyeldi secara resmi membuka MPLS Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Dharmasraya dan meninjau ruang kelas dan asrama. Ia berharap sekolah tersebut menjadi pusat lahirnya generasi Sumatera Barat yang cerdas, berkarakter, mandiri, berdaya saing, serta mampu menjadi pemimpin masa depan Indonesia. (adpsb)
