MJNEWS.ID – Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri berkolaborasi dengan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) menyelenggarakan Kegiatan Pelatihan Pembuatan dan Pemanfaatan Pewarna Alami selama dua hari, sejak Senin (18/5) hingga Selasa (19/5), di Rumah Sentra Tenun Gunung Mako, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Ketua Harian Dewan Kerajinan Nasional Tri Tito Karnavian didampingi Direktur SUPD III Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri Fauzan Hasan dan turut dihadiri Wakil Ketua Dekranasda Provinsi NTT Vera Asadoma, Ketua Dekranasda Kabupaten Alor Lidya Siawan Winaryo, Sekretaris Umum TP PKK Pusat Lusye, Direktur Nautika Foundation Hansen OI, instruktur pelatihan Siti Mardiastuti Rinawati, serta peserta yang terdiri atas pengrajin tenun dan kriya tekstil, pelaku UMKM sektor kerajinan,mahasiswa, hingga siswa-siswi SMA sederajat.
Pelatihan ini bertujuan meningkatkan pemahaman peserta mengenai jenis dan potensi pewarna alami, meningkatkan keterampilan teknis dalam proses pembuatan dan pemanfaatannya, mengembangkan inovasi produk kriya berbasis pewarna alami, serta mendorong praktik produksi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Pada kegiatan tersebut disampaikan bahwa Kabupaten Alor memiliki potensi sumber daya alam yang besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami bagi produk tenun dan kriya tekstil lokal. Pemanfaatan pewarna alami dinilai mampu memberikan nilai tambah karena selain ramah lingkungan, juga memiliki nilai estetika dan daya saing tinggi di pasar kriya dan ekonomi kreatif.
Selama pelatihan, peserta mendapatkan pembekalan mengenai konsep dasar pewarna alami, jenis bahan pewarna, pemanfaatan sumber daya lokal, hingga tren produk ramah lingkungan. Peserta juga mempelajari proses produksi pewarna alami mulai dari persiapan bahan baku, teknik ekstraksi, penyaringan, pemekatan warna, hingga faktor-faktor yang memengaruhi kualitas warna seperti tingkat keasaman (pH), suhu, dan waktu proses.
Selain itu, peserta memperoleh praktik teknik aplikasi pewarna alami pada produk kriya tekstil dan kain tenun, termasuk eksplorasi variasi warna dari bahan alami. Materi pengendalian mutu atau quality control juga diberikan untuk menjaga konsistensi kualitas produk melalui pengujian ketahanan warna dan tingkat kelunturan.
Pelatihan turut membahas teknik penyimpanan, pengemasan, branding, dan pengembangan nilai tambah produk kriya berbasis pewarna alami. Peserta juga didorong untuk mengembangkan usaha berbasis pewarna alami melalui identifikasi peluang pasar, peningkatan nilai tambah produk, dan pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan.
Kegiatan ini menjadi sarana penguatan kapasitas dan pemberdayaan masyarakat, khususnya bagi para pengrajin dan pelaku UMKM, agar mampu menghasilkan produk kriya yang lebih inovatif, berkualitas, dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Keterlibatan generasi muda dalam pelatihan juga diharapkan dapat menumbuhkan semangat kewirausahaan, kreativitas, serta kecintaan terhadap produk budaya lokal sehingga mampu mendukung keberlanjutan sektor kriya dan ekonomi kreatif di Kabupaten Alor.
Pada sesi akhir kegiatan, dilakukan peninjauan hasil praktik peserta serta diskusi bersama instruktur terkait pengembangan produk kriya berbasis pewarna alami sebagai upaya memperkuat daya saing produk lokal di pasar yang lebih luas.






