Ia mendorong agar kolaborasi ini tidak hanya berhenti di level diplomatik, tetapi juga melibatkan peran aktif Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan perguruan tinggi dalam program kerja sama tersebut.
“Kolaborasi yang baik harus melibatkan seluruh elemen pemerintah, dunia usaha, dan akademisi agar kerja sama ini tidak hanya berhenti pada level diplomatik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi rakyat,” pungkasnya.
Dukungan Syafruddin ini mengemuka setelah sebelumnya Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Constantine, St Petersburg, Rusia, pada Kamis 19 Juni kemarin.
Dalam pertemuan tersebut, Rusia menyatakan keinginannya untuk memperluas kerja sama dengan Indonesia di sektor energi, termasuk migas dan energi nuklir.
Kerja sama di bidang energi nuklir ini juga disebut-sebut dapat dikembangkan untuk kepentingan kesehatan, pertanian, dan pelatihan sumber daya manusia.
(*/eki)












