Sementara mantan Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Koto nan Godang, Andara Roza Putra Dt. Patiah Baringek, melayangkan kalimat tegas yang menjadi roh perjuangan hari itu.
”Lahan adat bukan lahan negara!” tegas Dt. Patiah Baringek di hadapan forum RDP.
Beliau mengingatkan bahwa anggota DPRD yang duduk hari ini adalah hasil pilihan bersama masyarakat nagari di Kota Payakumbuh. Oleh karena itu, ke sinilah harapan dan tempat mengadu ditumpangkan.
“Niniak mamak meminta legislatif bertindak lebih kritis terhadap kebijakan eksekutif yang dinilai mulai kebablasan,” ujarnya.
”Sebelumnya, kami lihat Walikota ingin benar-benar membangun Kota Payakumbuh. Tapi akhir-akhir ini kami lihat semakin aneh saja, dikhawatirkan nanti bakal menjadi perkara serius. Kami sangat sayangkan pemerintah gegabah atas persoalan ini. Seolah-olah Walikota menggadaikan nagari kita. Hak kami telah terzalimi,” lanjutnya dengan nada kecewa.
Sentimen senada juga disuarakan oleh tokoh masyarakat Alhadi Hamid dan Nasrul Tuanku Beringin. Memasuki lebih kurang dua tahun masa kepemimpinan Walikota saat ini, mereka merasa masyarakat adat mulai dipinggirkan.
”Pada dasarnya kami akan mengikuti seluruh program Walikota Payakumbuh. Tapi hari ini kami merasa sudah terzalami karena pemerintah tidak memperhatikan hak-hak masyarakat,”ucapnya.
Satu hal yang digarisbawahi dengan tebal oleh para tokoh adat, mereka tidak ingin ada adu domba antara Nagari Koto nan Ampek dan Nagari Koto nan Godang. Harapan besarnya adalah terwujudnya hubungan yang harmonis antara DPRD, pemerintah, dan masyarakat.
Niniak mamak juga memberikan wejangan sekaligus peringatan keras kepada para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menjadi pembantu Walikota Payakumbuh.
”ASN yang membantu Walikota jujur sajalah, jangan dikasih pula titian barakuak (rekayasa atau intrik yang merugikan),” tegas tokoh adat.
Suara lantang juga datang dari generasi muda. Yonaldi, perwakilan pemuda Nagari Koto nan Godang, menyatakan bahwa pemuda berdiri kokoh di belakang niniak mamak mereka. Ia menaruh harapan besar agar anggota dewan mengawal sekasur persoalan ini hingga tuntas.
”Cukup kami saja yang didustai, jangan sampai bapak-ibu anggota dewan nantinya yang ikut didustai,” cetus Yonaldi mengingatkan.
(Yud)












