BeritaKabupaten Dharmasraya

Komunitas Trail Turun Gunung Jadi “Mata dan Telinga” Polres Dharmasraya Cegah Karhutla

20
Komunitas Trail Turun Gunung Jadi “Mata dan Telinga” Polres Dharmasraya Cegah Karhutla
Komunitas Trail Turun Gunung Jadi “Mata dan Telinga” Polres Dharmasraya Cegah Karhutla. (f/humas)

Mjnews.id – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tidak hanya dihadapi dengan apel dan pengerahan personel. Di Kabupaten Dharmasraya, kepolisian mulai memperluas barisan pencegahan dengan menggandeng komunitas trail untuk ikut menyisir wilayah-wilayah yang sulit dijangkau kendaraan biasa.

Langkah tersebut menjadi bagian dari penguatan kesiapsiagaan Polres Dharmasraya menghadapi potensi Karhutla yang sewaktu-waktu dapat mengancam kawasan hutan dan lahan di daerah itu.

ADVERTISEMENT

Kesiapan Satgas Anti Karhutla ditandai dengan pelaksanaan apel kesiapsiagaan di sejumlah wilayah, masing-masing Kecamatan Sungai Rumbai, Koto Baru, Sitiung dan Pulau Punjung.

Apel tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial. Kesiapan personel, sarana dan prasarana, pola patroli hingga koordinasi lintas sektor menjadi bagian penting untuk memastikan setiap potensi kebakaran dapat diketahui sedini mungkin dan ditangani sebelum berubah menjadi bencana yang lebih besar.

Menariknya, kekuatan pencegahan kali ini tidak hanya bertumpu pada institusi kepolisian dan pemerintah. Komunitas trail Kabupaten Dharmasraya ikut mengambil peran.

Melalui deklarasi yang dilakukan bersama, komunitas trail menyatakan kesiapan membantu kepolisian dalam melakukan patroli dan pemantauan di kawasan yang dinilai rawan karhutla.

Kehadiran komunitas tersebut memiliki nilai strategis. Dengan kendaraan yang dirancang untuk menaklukkan medan berat, para penggiat trail dapat menjangkau jalan tanah, kawasan perkebunan maupun lokasi yang sulit dimasuki kendaraan patroli biasa.

Mereka berpotensi menjadi “mata dan telinga” tambahan bagi aparat di lapangan. Jika menemukan kepulan asap, titik api atau aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, informasi dapat segera disampaikan kepada petugas untuk ditindaklanjuti.

Pola pencegahan seperti ini dinilai penting karena karhutla kerap bermula dari persoalan kecil. Kepulan asap yang terlambat diketahui dapat berkembang menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan, terlebih ketika kondisi cuaca panas dan lahan berada dalam keadaan kering.

Karena itu, deteksi dini menjadi salah satu kunci utama. Semakin cepat titik api diketahui, semakin besar pula peluang api dipadamkan sebelum meluas.

Exit mobile version