Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Sumbar, Herlin Srihendini, mengatakan pelatihan tersebut menjadi langkah penting untuk menyamakan pemahaman seluruh pihak mengenai pemenuhan dan perlindungan hak anak.
Menurutnya, anak memiliki hak yang wajib dipenuhi dan dilindungi bersama. Sekolah menjadi salah satu lingkungan yang sangat penting karena sebagian besar waktu anak dihabiskan dalam proses pendidikan.
“Anak-anak adalah aset yang tidak ternilai harganya. Karena itu, hak mereka harus dipenuhi dan mereka harus mendapatkan perlindungan,” ujar Herlin.
Ia mengatakan berbagai persoalan yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak, termasuk perundungan dan kekerasan, harus menjadi perhatian bersama. Pencegahan persoalan tersebut tidak dapat hanya dibebankan kepada pihak sekolah, tetapi membutuhkan keterlibatan orang tua, pemerintah dan masyarakat.
“Sekolah ramah anak harus kita wujudkan secara bersama-sama. Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi seluruh warga sekolah,” katanya.
Herlin berharap penguatan sekolah ramah anak dapat menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi Sumbar yang mampu berkontribusi terhadap pencapaian Indonesia Emas 2045.
“Tujuan kita adalah menyelamatkan generasi yang akan datang, karena merekalah yang nantinya menjadi penerus kita,” tuturnya.
Di kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak DP3AP2KB Sumbar, Karyono, mengatakan pelatihan tersebut digelar karena masih ditemukan berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan sekolah.
“Kami masih menemukan kasus-kasus yang terjadi di sekolah. Ini menunjukkan bahwa penerapan sekolah ramah anak masih perlu diperkuat,” kata Karyono.
Karena itu, peserta pelatihan diberikan pendampingan dan pemahaman mengenai hak-hak anak serta upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak menjadi sumber tekanan bagi peserta didik.
Karyono berharap peserta mengikuti pelatihan secara aktif dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh di sekolah masing-masing.
“Harapan kami, peserta semakin memahami kondisi anak saat ini dan mampu mengenali persoalan yang mereka hadapi. Dengan begitu, sekolah bisa memberikan respons yang tepat dan menciptakan lingkungan yang benar-benar mendukung tumbuh kembang anak,” ujarnya.
(hpr)
