Mjnews.id – Pemerintah Kabupaten Sijunjung melalui Dinas Kesehatan menggelar Pertemuan Evaluasi Puskesmas dan Rumah Sakit dalam Pencegahan dan Penanganan Penyebab Utama Kematian Ibu dan Bayi di Balairung Lansek Manih Kantor Bupati Sijunjung, Selasa (22/9/2026).
Pertemuan tersebut menjadi forum evaluasi terhadap pelayanan kesehatan ibu dan bayi sekaligus mengidentifikasi berbagai kendala, memperkuat sistem rujukan, serta merumuskan langkah strategis untuk menekan angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Sijunjung.
Hadir kesempatan itu, Bupati Sijunjung Dr. Benny Dwifa Yuswir, S.STP, M.Si, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sijunjung, Harry Oscar Hidayat, S.STP., M.Si, perwakilan Kemenag Sijunjung, Hendra Yoni, Kepala OPD terkait, Camat, Walinagari serta undangan lainnya.
Dalam arahannya, Bupati Sijunjung, Dr. Benny Dwifa Yuswir menegaskan bahwa upaya menekan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) tidak boleh hanya dipandang sebagai pencapaian indikator kinerja pemerintah daerah.
Menurutnya, persoalan tersebut menyangkut keselamatan masyarakat dan membutuhkan keseriusan seluruh pihak, mulai dari tenaga kesehatan, Puskesmas dan rumah sakit hingga pemerintah kecamatan, nagari dan masyarakat.
“Kematian ibu dan bayi ini bukan sekadar angka atau indikator dalam menilai derajat kesehatan, tetapi menyangkut nyawa umat manusia yang sebetulnya bisa kita cegah melalui kolaborasi lintas sektor,” tegas Benny.
Ia menyebut, setiap kasus kematian ibu maupun bayi juga dapat berdampak terhadap indikator pembangunan daerah, termasuk Angka Harapan Hidup (AHH) yang menjadi salah satu komponen dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Benny juga menyoroti pentingnya memastikan mekanisme rujukan pasien berjalan sesuai kebutuhan medis dan kepentingan masyarakat.
Ia meminta seluruh tenaga kesehatan mengutamakan pelayanan yang profesional serta mengoptimalkan fasilitas kesehatan milik pemerintah daerah.
Benny juga menyinggung adanya informasi atau aduan masyarakat terkait dugaan oknum tenaga kesehatan, termasuk bidan desa, yang mengarahkan pasien ke fasilitas kesehatan swasta tertentu. Ia meminta informasi tersebut menjadi perhatian dan ditindaklanjuti sesuai mekanisme yang berlaku.
“Kalau ada aduan masyarakat, kita harus berani melakukan evaluasi. Jangan sampai ada kepentingan lain yang mengalahkan kepentingan pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.
Selain peningkatan kualitas pelayanan, Benny mendorong jajaran kesehatan lebih aktif melakukan edukasi melalui media sosial seperti TikTok, Facebook, dan Instagram.
Menurutnya, platform digital dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi mengenai pelayanan kesehatan, tahapan penanganan medis, hingga program cek kesehatan gratis secara lebih luas dan mudah dipahami masyarakat.
