BudayaJawa Tengah

Nguri-Uri Budaya Jawa Kawruh Jiwa

746
Kiri, Pimpinan pusat, Ki Wagiman sedang menerangkan ilmu Kawruh Jiwa kepada mahasiswa IAIN Surakarta. Kanan, RM Ismunandar pimpinan cabang Kawruh Jiwa Salatiga.

Salatiga, MJNews.ID – Nguri-uri, sebenarnya istilah yang mempunyai arti merawat, menjaga agar hidup subur, melestarikan. Dalam budaya Jawa bermakna melestarikan kebudayaan nenek moyang.
Kawruh jiwa, bagi sebagian masyarakat Jawa tentu tidak terlalu asing, lain halnya bagi masyarakat di luar jawa pasti akan merasa asing dan mungkin belum pernah dengar sama sekali.
Menurut Pimpinan Cabang Kawruh Jiwa, Raden Mas Ismunandar di Salatiga, Kawruh jiwa adalah ilmu manajemen rasa khas Nusantara. Menggugah kesadaran agar siapa pun hidup dalam kekinian (life is nowness), tidak menyesali masa lalu dan tidak takut menghadapi masa depan.
Kawruh jiwa melakukan diri terhadap ‘Yang Asal, Yang luhur, Yang Weruh, Yang kasih, Yang Agung untuk mendapatkan rasa Ketuhanan Yang Maha Esa (jiwa luhur) berupa laku ‘Mawas diri’ (Pangawikan pribadi).
Sebenarnya Kawruh Jiwa itu sudah ada sejak tahun 1928, pencetusnya adalah Ki Ageng Suryomentaram, putra dari Sultan Hamengku Buwana VII (seorang spriritualis pembaharu dalam olah kebatinan Jawa, salah seorang pemikir terbesar yang pernah dimiliki Nusantara), yang tinggal di Kroyo, Bringin, Kabupaten Semarang.
Kawruh jiwa diakui sebagai Organisasi Penghayat Kepercayaan dan terdaftar pada Direktorat Jenderal Kebudayaan dengan tanda Inventarisasi tanggal 31 Desember 1983, Nomor: I.097/F.3/N.1.1/1980: Kejaksaan dan Badan kesatuan Bangsa dan Politik.
Salatiga merupakan kota yang cukup aman, tidak pernah ada huru hara, kota pensiunan. Aktivitas Kawruh Jiwa di kota ini cukup berjalan dibanding kota-kota lainnya.
Cabang Salatiga sendiri berdiri akhir tahun 2000, yang merupakan perkumpulan/paguyuban yang cukup aktif, bersama cabang Kabupaten Semarang, Klaten, Surakarta.
Kegiatan yang dilakukan adalah problem solving dalam kehidupan sehari-hari, misalnya memulihkan orang yang depresi, meredam orang yang fanatisme berlebihan, dan lain lain.
Kegiatan yang dilakukan disebut dengan istilah Jonggringan (Jonggring Salaka Agung).
Perkumpulan/paguyuban Kawruh jiwa sering didatangi oleh banyak mahasiswa, baik S1/S2 untuk mereka belajar ataupun mendalami, diantaranya dari universitas Diponegoro, UGM, IAIN, Fakultas Psikologi, Filsafat, Ilmu Politik dan Sosial pada khususnya.
Beberapa aktris/aktor/budayawan/model seperti Sujiwo Tejo dan Atiqah Hasiholan dan lain-lain juga ikut bergabung dan mendalami ‘Kawruh Jiwa’ ini.
Publikasi hingga ke manca negara, yang antara lain ditulis oleh: Clifford Geertz (USA), Marcel Bonef (Perancis), Someya Yoshimichi (Jepang), merupakan kebanggaan tersendiri.
Itulah sekilas tentang Kawruh Jiwa, yang menarik untuk kita tahu dan pelajari.
(ras)
Exit mobile version