Perokok Jadi Beban Negara
Data dari riset kesehatan daerah (Riskesdas) pada 2007, jumlah perokok di daerah ini sudah berada pada taraf yang sangat mengkhawatirkan. Yakni, Sekitar 1,2 juta atau lebih dari seperempat populasi penduduk Sumbar merupakan perokok aktif.
Sedangkan di Indonesia jumlah perokok mencapai 140 juta. Atau lebih dari setengah populasi penduduk Indonesia merupakan perokok aktif, lebih besar dibanding Cina yang hanya seperempat jumlah penduduknya.
Dari 140 juta perokok itu, setiap tahun kematian akibat rokok diperkirakan Kematian akibat rokok 427.948 orang pertahun 1172 orang per hari.
Pada tahun 2008, Tobacco Free Initiative (TFI) WHO Regional Asia Tenggara telah merilis survey pemakaian rokok di Indonesia.
Dari data didapatkan informasi bahwa jumlah perokok per hari di Indonesia adalah sekitar 63,2 persen dari seluruh laki-laki perokok dan 4,5 persen perempuan perokok dewasa (di atas 15 tahun).
Menurut Riskesdas 2007, Sumatera Barat merupakan Provinsi yang menempati urutan ke-6 tertinggi yang mempunyai jumlah perokok tiap hari, yaitu 25,7 persen. Artinya jika penduduk Sumbar sekitar 4,8 juta jiwa, sekitar 1,2 juta jiwa adalah perokok tiap hari.
Di samping 25,7 perokok tiap hari di Sumbar, masih ada lagi 4,5 persen perokok kadang-kadang dan 2,3 persen mantan perokok. Artinya angka 1,2 juta jiwa tadi masih bertambah 4,5 persen (sekitar 240.000 jiwa) yang merokok kadang-kadang yang tentu tetap terdampak, Dan 2,3 persen (sekitar 120.000 jiwa) yang mantan perokok, yang tetap sudah terdampak, tapi tentunya tidak sebesar perokok tiap hari dan mantan perokok.
Sementara, sebaran perokok di kabupaten/kota menurut Riskesdas, 2007, dimana Kabupaten Sijunjung menempati urutan tertinggi yaitu 31,1 persen, diikuti Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok. Dan yang terendah pada saat itu (tahun 2007) adalah Kota Payakumbuh.
“Artinya budaya merokok menjadi beban berat bagi kabupaten/kota, yang mempunyai angka merokok tiap hari tinggi. Diharapkan program KTR ini mendapatkan prioritas di kabupaten/kota masing-masing,” kata Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Rosnini Savitri.
Data Reskesdas 2007, juga menyatakan bahwa usia perokok di Indonesia semakin muda. Demikian juga di Sumbar, kelompok umur perokok yang paling muda ditemukan berusia 5-9 tahun (1,5 persen). Dari survey tersebut ditemukan bahwa 53,8 persen perokok adalah kaum remaja. Jumlahnya meningkat dua kali lipat dari tiga tahun sebelumnya. Angka tertinggi perokok remaja adalah pada usia 15-19 tahun (40,1 persen). Yang lebih mengerikan adalah sebagian dari pemuda-pemuda tersebut, 30 menit setelah bangun tidur sudah ingin merokok.
Meningkatnya jumlah perokok muda dari tahun ke tahun tidak bisa terlepas dari pengiklanan rokok yang begitu gencar dan fantastis dengan ikon.
