Mjnews.id – Proyek revitalisasi bangunan SD Negeri 01 Gunung Melintang, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, menjadi sorotan. Proyek yang dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026 dengan nilai kontrak Rp741.583.000 itu diduga menggunakan kayu bekas pada bagian konstruksi kuda-kuda atap bangunan.
Dugaan tersebut mencuat setelah media ini melakukan pemantauan langsung di lokasi proyek pada Selasa (13/10/2026). Sejumlah material kayu yang terpasang pada bagian kuda-kuda atap diduga merupakan material bekas.
Persoalan ini perlu mendapat perhatian serius. Pasalnya, kuda-kuda atap merupakan bagian penting dari konstruksi bangunan yang berfungsi menopang beban atap. Kelayakan material yang digunakan menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan keamanan dan ketahanan bangunan sekolah.
Proyek revitalisasi tersebut dilaksanakan secara swakelola oleh pihak sekolah melalui Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP). Dengan mekanisme ini, kesesuaian antara pelaksanaan pekerjaan, spesifikasi teknis, Rencana Anggaran Biaya (RAB), dan penggunaan material menjadi aspek yang perlu dipastikan.
Kepala pelaksana atau kepala tukang proyek, Hermansyah, saat dikonfirmasi di lokasi pekerjaan, Selasa (13/10/2026), menyebut sebagian kayu yang digunakan untuk kuda-kuda penyangga atap merupakan material bekas.
“Kayu yang dipakai untuk kuda-kuda penyangga atap bangunan SD Negeri 01 tersebut sebagiannya memakai kayu bekas,” kata Hermansyah kepada media ini.
Keterangan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaian material yang digunakan dengan spesifikasi pekerjaan yang telah direncanakan. Terlebih, proyek tersebut menggunakan anggaran negara yang semestinya dikelola secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Namun, pengakuan kepala tukang itu justru berbeda dengan penjelasan Kepala SD Negeri 01 Gunung Melintang, Efrida Yesi, yang bertindak sebagai penanggung jawab pelaksanaan program revitalisasi di sekolah tersebut.
Dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Efrida Yesi menyatakan bahwa material yang digunakan bukan kayu bekas. Ia menjelaskan, kayu yang sudah lapuk telah diganti dengan material baru.
“Ndak kayu bekas itu do, Pak. Mana yang lapuk diganti dengan kayu yang baru,” tulis Efrida melalui pesan singkat.
