Jawa Tengah

Potret Orang Pinggiran, Mbah Krutuk, Meski Uzur tapi Mandiri

541
Mbah Krutuk.

MAGELANG, MJNews.ID – Namanya Tumini. Tapi lebih sering dipanggil Mbah Krutuk. Simbah ini berasal dari Dusun Krutuk. Mungkin karena inilah sehingga simbah ini sering dipanggil Mbah Krutuk.
Umurnya sudah tergolong lansia. Wajahnya sudah kelihatan keriput. Tampak keriputnya tidak hanya di wajah saja, namun tangan dan kakinya pun sudah kelihatan menandakan ketuaannya. Namun simbah ini sangat kuat, sehat dan semangat.
 
Pekerjaan sehari-hari berjualan sayur keliling. Dengan bermodalkan selendang dan tenggok (tempat untuk jualan sayurannya), simbah ini tiap hari berjalan keliling kampung untuk menjajakan sayurannya. Dengan beralaskan sandal jepit, simbah ini dengan semangat menyambangi para langganannya.
Saat bertemu awak media di depan rumah pelanggannya, simbah ini pun dengan senang hati diambil gambarnya. Wajahnya tampak ceria. Dan simbah pun bercerita panjang lebar.
Menurut keterangan Mbah Krutuk, tiap hari selalu pergi ke pasar untuk belanja sayuran lalu dijual lagi. Jarak dari rumah ke pasar kira-kira 5 kilo meter. Begitu selesai sholat subuh, Mbah Krutuk langsung bergegas keluar untuk pergi ke pasar dengan naik angkot yang sudah setia menunggu di pinggir jalan. Dengan jasa angkot inilah Mbah Krutuk setiap hari berangkat ke pasar dengan biaya Rp. 3.000.
Sesampai di pasar, Mbah Krutuk harus berlomba-lomba dengan teman seperjuangannya di pasar untuk berbelanja. Setelah itu Mbah Krutuk harus berjalan kaki untuk menjual sayurannya kepada para pelanggannya. Para pelanggan sudah hafal jam berapa Mbah Krutuk lewat, jadi para pelanggan pun sudah banyak yang menanti di depan rumah mereka masing-masing.
Ditanya berapa modal yang harus dikeluarkan untuk berjualan sayur keliling. Mbah Krutuk menjelaskan bahwa modalnya sekitar Rp. 300.000. Dan dari modal sekian itu jika dagangannya habis dan tidak diutang, akan mendapat untung kira-kira Rp. 50.000. Namun kadang jualannya tidak habis dan sering juga ada yang diutang oleh para pelanggannya.
Begitulah potret seorang pedagang sayur keliling yang berasal dari Dusun Krutuk, sebuah desa di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Di saat yang lain mungkin masih ada yang tidur selimutnya yang hangat, Mbah Krutuk harus melawan hawa dingin untuk bekerja demi mengais rejeki untuk kelangsungan hidupnya.
Dari subuh sampai nduhur, Mbah Krutuk harus bekerja dengan semangat. Kakinya tampak kuat berjalan dan badannya pun tampak kuat untuk menggendong dagangannya. Panas dan hujan tidak lagi menjadi alasan bagi Mbah Krutuk untuk tidak bekerja. Terik matahari pun tidak dirasa. Meski sudah uzur, tapi Mbah Krutuk tetap mandiri.
Ditanya soal bantuan dari pemerintah, Mbah Krutuk dengan santai mengatakan tidak mendapatkan bantuan apa-apa, namun Mbah Krutuk ikhlas karena masih bisa bekerja meskipun hanya berjualan sayur keliling.
“Alhamdulillah cukup untuk makan,” sambungnya.
(yyk)
Exit mobile version