Kesehatan

Kasus Sifilis Meningkat, Begini Imbauan Kemenkes

542
Juru bicara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), Mohammad Syahril
Juru bicara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), Mohammad Syahril. (f/kemenkes)

MJNEWS.ID – Mengenai kasus sifilis atau yang disebut raja singa ternyata bisa menyerang terhadap anak-anak, begitu juga bayi, bisa terdampak oleh penyakit tersebut.

Melansir dari laman Tribratanews.polri.go.id, di Indonesia kasus sifilis atau raja singa itu, dalam lima tahun terakhir melonjak dengan angka peningkatan hingga mencapai 70 persen.

ADVERTISEMENT

Sebelumnya kasus sifilis atau raja singa itu, dari semula di angka sekitar 12 ribuan kasus, namun di tahun 2022 telah tercatat kasusnya sebanyak di angka 21 ribu orang terpapar oleh penyakit sifilis atau raja singa itu.

Menurut juru bicara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), Mohammad Syahril penyakit ini tak hanya menyerang kaum dewasa, anak-anak dan bayi juga bisa terdampak oleh penyakit sifilis atau raja singa tersebut.

Ia menambahkan dampak dari penyakit sifilis atau raja singa, terhadap anak bisa berakhir fatal hingga memicu dan menyebabkan kecacatan.

“Jika tidak meninggal, dia juga bisa terpapar penyakit sifilis seumur hidup,” kata Dr. Mohammad Syahril sebagaimana dikutip mjnews.id pada Kamis 11 Mei 2023.

Syahril menjelaskan dampak dari penyakit sifilis atau raja singa terhadap anak infeksinya serius sama dengan orang dewasa yang terpapar oleh penyakit tersebut, hingga menyebabkan luka, gatal-gatal di sekitar alat kelamin.

Tak hanya di sekitar alat kelamin saja penyakit sifilis atau raja singa tersebut, dampaknya bisa menyerang dalam organ tubuh lainnya, seperti otak, jantung dan pembuluh darah.

Juru bicara Kemenskes Mohammad Syahril itu pun, mengungkapkan bahwa infeksi dari penyakit sifilis atau raja singa, penularan terhadap anak banyak yang terjadi dari ibunya, sebagian banyak yang tidak melakukan tes kesehatan skrining dan tes sifilis.

Maka dari itu untuk mencegah penyakit sifilis atau rasa singa itu, Dr. Mohammad Syahril menghimbau kepada masyarakat untuk menjaga kehati hatian hindari perilaku seks yang berisko.

“Nah ini semuanya berkaitan dengan penularan seksual, di samping penularan transfusi darah jarum suntik, tentu saja terbesar perilaku berisiko, untuk karena itu Kemenkes mengimbau bagi yang sudah menikah, disarankan untuk tidak melakukan perilaku seks berisiko,” ucapnya.

Syahril mengatakan bagi warga yang masih singel atau yang belum menikah untuk menghindari atau mencegah dari penyakit sifilis atau raja itu, dalam melakukan hubungan seks berisiko harus menggunakan alat pengaman.

“Bagi yang belum menikah agar menggunakan pengaman untuk menghindari hal-hal yang berisiko untuk kesehatan,” pungkas juru bicara Kemenkes RI, Dr. Mohammad Syahril.

(eki)

Exit mobile version