Mjnews.id – Di tengah gegap gempita perkembangan teknologi digital, Indonesia mengalami transformasi besar dalam berbagai sektor, termasuk perdagangan. E-commerce, yang pada mulanya dipandang sebagai pintu masuk menuju era perdagangan modern, kini justru memunculkan dilema baru: dominasi asing di ruang digital nasional.
Oleh: Aurellia Hamdi
Fenomena ini, jika tidak diantisipasi dengan bijak, berpotensi menyeret bangsa ini ke dalam bentuk kolonialisme modern: kolonialisme digital.
Pertumbuhan E-Commerce yang Melesat
Tidak dapat dipungkiri, Indonesia kini menjadi raksasa e-commerce di kawasan Asia Tenggara. Pada 2024, nilai transaksi e-commerce Indonesia diperkirakan mencapai Rp 487 triliun, dengan pertumbuhan tahunan yang mengesankan. Lonjakan ini sebagian besar didorong oleh meningkatnya penetrasi internet, kemajuan teknologi pembayaran digital, serta perubahan perilaku konsumen pascapandemi COVID-19.
Namun ironisnya, di balik pertumbuhan tersebut, terdapat realitas yang mengkhawatirkan. Lebih dari 50 persen pasar e-commerce nasional kini dikuasai oleh perusahaan asing. Platform seperti Shopee, Lazada, TikTok Shop, dan Amazon memperkuat cengkeraman mereka di pasar lokal, menggeser pemain lokal ke pinggiran kompetisi.
Sementara itu, banyak UMKM— yang seharusnya menjadi tulang punggung perekonomian nasional—berjuang keras untuk sekadar bertahan.
Electronic Colonialism Theory: Menjajah Tanpa Perang
Fenomena ini sejalan dengan gagasan Electronic Colonialism Theory (ECT). Teori ini menyoroti bagaimana media dan teknologi dari negara-negara dominan mampu membentuk budaya, nilai, dan ekonomi negara-negara berkembang. Melalui penyebaran produk budaya dan teknologi, negara-negara maju secara halus mendominasi negara lain tanpa perlu mengerahkan pasukan.
Dalam konteks Indonesia, e-commerce telah menjadi alat efektif untuk menyebarkan budaya konsumsi asing. Produk asing tidak hanya mendominasi rak virtual marketplace, tetapi juga memengaruhi preferensi konsumen lokal. Lambat laun, kita mulai melihat perubahan selera, standar kualitas, bahkan cara pandang terhadap produk lokal yang dianggap kalah “bergengsi” dibandingkan produk luar.
Dampak Multidimensional: Ekonomi, Budaya, dan Data
Dampak dari dominasi asing ini sangat luas dan kompleks. Dari sisi ekonomi, ketergantungan pada platform asing menyebabkan aliran keuntungan ke luar negeri. Setiap transaksi yang terjadi melalui platform asing, meski melibatkan produk lokal, tetap menyisihkan sebagian nilai ekonomi untuk pemain luar.
Dari sisi budaya, kita dihadapkan pada ancaman homogenisasi budaya. Kearifan lokal, produk-produk berbasis budaya Nusantara, mulai kehilangan tempat di hati konsumen. Ecommerce yang seharusnya menjadi sarana memperkuat ekonomi kreatif lokal justru malah mempercepat erosi budaya.
Tak kalah penting, dari sisi data, Indonesia menghadapi tantangan besar. Platform asing menguasai data perilaku konsumen Indonesia, yang sejatinya adalah aset strategis. Tanpa pengelolaan data yang bijak, Indonesia bukan hanya kehilangan nilai ekonomi, tetapi juga kedaulatan digitalnya.
