Pendobrak Standar Kecantikan
Standar kecantikan sekarang mulai didominasi oleh kehadiran influencer, khususnya beauty influencer. Kuatnya pengaruh dari influencer ini membuat mereka menjadi seorang role model, membuat banyak orang mengubah penampilan sesuai apa yang mereka bawakan.
Namun Radjagukguk mengungkapkan bahwa munculnya influencer dengan karakteristik beragam, mulai dari kulit sawo matang, wajah berjerawat, hingga rambut keriting, menunjukkan adanya keberagaman pada standar kecantikan di media sosial yang mulai bergeser dari dominasi konsep kecantikan tunggal.
Perubahan ini juga terlihat dalam evolusi media secara umum, yang turut membentuk persepsi baru dari pergeseran makna tentang standar kecantikan. Jika dulunya iklan-iklan kecantikan sering menampilkan citra ideal yang sulit dicapai oleh banyak perempuan. Namun dewasa ini telah menjadi arena sosial global tempat berlangsungnya proses reproduksi budaya secara terus-menerus yang melibatkan individu dalam kelas-kelas sosial.
Influencer di media sosial memiliki ribuan bahkan jutaan pengikut yang sudah tentu berperan penting membentuk standar kecantikan. Kecantikan yang dihasilkan oleh influencer juga akan mempengaruhi perspektif bagi individu yang mengaguminya sehingga orang akan cenderung mengikuti kesan cantik yang dibawakan oleh influencer.
Dalam konteks ini, kehadiran Ratu Ghania dengan tampilan yang tidak sesuai dengan standar dominan membuka ruang untuk memberikan wacana tandingan pada standar kecantikan yang mengidealkan kulit putih dan mulus.
Dalam akun @ratughania ia merepresentasikan bentuk kecantikan yang inklusif, otentik, dan representatif bagi banyak perempuan yang memiliki kondisi kulit serupa, berupa jerawat.
Instagram menjadi platform yang memungkinkan Ratu mengaktualisasikan nilai-nilai body positivity, sembari membangun komunitas yang saling mendukung secara emosional.
Dengan jumlah pengikut mencapai 241 ribu, pengaruh Ratu sebagai beauty influencer bukan hanya bersifat kosmetik, melainkan juga kultural. Ia telah menjelma menjadi simbol resistensi terhadap hegemoni kecantikan yang homogen dan eksklusif, sekaligus agen transformasi dalam mendefinisikan ulang makna cantik.
Penulis, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas Padang
(*)
