Di sini penting membedakan dua hal. Perbedaan iman memang memerlukan kesiapan dan kesepakatan. Rumah tangga membutuhkan aturan yang disetujui bersama, terutama soal nilai dan pengasuhan. Namun kesiapan itu tidak tumbuh melalui intimidasi. Ia tumbuh melalui dialog yang jujur dan tenang.
Jika keluarga menggunakan ultimatum, pasangan terdorong menyembunyikan diri. Jika komunitas memproduksi stigma, pasangan kehilangan ruang untuk membangun jalan tengah. Dalam jangka panjang, semua pihak merugi. Keluarga kehilangan kedekatan, anak kehilangan rasa aman, dan relasi sosial dipenuhi prasangka.
Masyarakat majemuk membutuhkan etika percakapan yang dewasa. Keluarga berhak menjaga nilai. Anak juga berhak menjalani pilihan hidupnya sebagai manusia dewasa. Titik temunya ada pada dialog yang memberi ruang, bukan pada kontrol yang memutus relasi. Selama cara bicara kita masih menganggap perbedaan sebagai ancaman, tegangan akan terus dipelihara. Selama keluarga dan komunitas memberi ruang percakapan, relasi yang berbeda pun memiliki peluang untuk dikelola dengan sehat.
Pacaran beda agama akan terus hadir di tengah mobilitas sosial yang makin terbuka. Pertanyaannya sederhana. Apakah kita ingin membicarakannya dengan stigma dan kecurigaan, atau dengan kedewasaan yang memberi ruang bagi orang lain untuk hidup tanpa kehilangan martabatnya.
Penulis, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas (Unand) Padang
(*)
