Oleh: H. Nanang Mubarok, S.H.I., M.Sos (Ketua Umum DPP BKPRMI)
MJNEWS.ID – Dunia hari ini tidak sekadar berisik ia tengah retak secara sistemik. Data global menunjukkan eskalasi krisis yang tak lagi bisa dianggap biasa, konflik bersenjata meningkat tajam, krisis kemanusiaan meluas, dan ketimpangan ekonomi kian ekstrem.
Dalam satu tahun terakhir saja, lebih dari 240.000 orang dilaporkan tewas akibat konflik di berbagai belahan dunia. Jumlah konflik pun mencapai titik tertinggi sejak Perang Dunia II, dengan puluhan perang aktif lintas kawasan.
Lebih dari itu, dunia juga menghadapi krisis kemanusiaan yang semakin mengkhawatirkan. Sekitar 117 juta manusia terpaksa mengungsi akibat konflik, kekerasan, dan persekusi. Di saat yang sama, lebih dari 1,1 miliar manusia hidup dalam tekanan kemiskinan multidimensi, dan hampir separuhnya berada di wilayah konflik.
Ironisnya, ketika penderitaan global meningkat, ketimpangan justru semakin tajam. Laporan terbaru menunjukkan bahwa 1 persen orang terkaya dunia menguasai puluhan triliun dolar kekayaan, sementara bantuan global justru mengalami penurunan.
Situasi ini bukan sekadar krisis ekonomi atau politik, melainkan krisis moral global. Seperti diingatkan Sekretaris Jenderal PBB, dunia sedang memasuki “era baru konflik dan kekerasan” sebuah fase ketika sistem global gagal menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Di tengah lanskap global yang rapuh ini, posisi Indonesia menjadi krusial. Dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan tradisi moderasi yang kuat, Indonesia memiliki legitimasi moral untuk tampil sebagai penyeimbang.
Namun dalam praktiknya, Indonesia masih kerap terjebak dalam posisi pasif menjadi pasar bagi kekuatan ekonomi global, sekadar penonton konflik geopolitik, bahkan rentan terseret dalam pusaran polarisasi global. Pertanyaannya tegas: apakah Indonesia akan menjadi pemain atau hanya pasar global?
Idul Fitri sering kali dipersempit menjadi momentum spiritual personal. Padahal, dalam perspektif peradaban, Idul Fitri merupakan titik reset kolektifmomentum untuk mengoreksi arah, baik secara spiritual maupun geopolitik. Fitrah tidak hanya dimaknai sebagai kembali suci, tetapi juga sebagai upaya meluruskan arah bangsa, memperkuat kompas moral, dan menegaskan keberpihakan pada kemanusiaan.
Jika Idul Fitri hanya berujung pada euforia dan konsumsi, maka kita kehilangan peluang strategis untuk melakukan reposisi bangsa di tengah krisis global.
Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam lahir dari masjid. Namun hari ini, banyak masjid seolah tercerabut dari realitas global. Padahal, di tengah dunia yang kehilangan arah, masjid semestinya bertransformasi menjadi pusat literasi geopolitik umat, advokasi kemanusiaan, serta penguatan ekonomi berbasis keadilan.
Ketika mayoritas pengungsi dunia berasal dari wilayah konflik, masjid tidak boleh diam. Ia harus menjadi suara bagi yang tak bersuara dan pembela bagi yang tertindas. Tanpa peran itu, agama berisiko kehilangan relevansinya dalam dinamika global.
Indonesia saat ini tengah menikmati bonus demografi. Namun tanpa arah yang jelas, bonus ini dapat berubah menjadi beban sosial. Di era digital, pemuda hidup dalam arus informasi global yang sarat kepentingan mulai dari disinformasi hingga perang narasi.
Tanpa kesadaran kritis, pemuda berpotensi menjadi korban atau alat kepentingan global. Sebaliknya, dengan pembinaan yang tepat, mereka dapat menjadi agen perdamaian, motor ekonomi umat, sekaligus penjaga keutuhan bangsa.
Dalam konteks ini, peran pemuda masjid seperti yang terhimpun dalam BKPRMI menjadi sangat strategis untuk mengubah energi demografi menjadi kekuatan peradaban.
Di sisi lain, dalam dunia yang semakin terfragmentasi, politik luar negeri “bebas aktif” perlu dimaknai lebih progresif. Netralitas tidak cukup dimaknai sebagai sikap pasif, tetapi harus disertai keberanian moral. Indonesia perlu tampil lebih tegas dalam diplomasi kemanusiaan, aktif meredam konflik global, serta memperkuat kemandirian ekonomi agar tidak menjadi objek tekanan kekuatan besar. Tanpa itu, Indonesia hanya akan menjadi arena perebutan pengaruh, bukan pemain utama.
Merajut fitrah bangsa di tengah krisis global bukan lagi pilihan, melainkan keharusan sejarah. Ini adalah agenda peradaban yang menuntut sinergi antara masjid, pemuda, dan negara.
Nilai-nilai dasar bangsa, ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, dan keadilan tidak akan hidup jika tidak diinstruksikan dalam kebijakan negara, gerakan sosial, dan kesadaran kolektif. Tanpa sinergi tersebut, Indonesia berisiko tertinggal dalam dunia yang bergerak cepat tanpa arah moral.
Pada akhirnya, dunia hari ini tidak hanya membutuhkan kekuatan, tetapi juga arah. Indonesia memiliki semua prasyarat untuk itu: populasi besar, tradisi moderasi, kekuatan sosial-keagamaan, serta legitimasi moral di tingkat global.
Namun semua itu tidak akan berarti tanpa keberanian untuk menentukan sikap. Idul Fitri seharusnya menjadi momentum bukan sekadar kembali ke titik nol, melainkan melompat menuju peran global yang lebih menentukan.
Sejarah sedang ditulis. Dan seperti semua zaman besar, ia hanya akan mencatat dua jenis bangsa: mereka yang menentukan arah, dan mereka yang ditentukan oleh keadaan.
“Indonesia harus memilih: sekarang”
