Masyarakat tiga nagari di Lubuk Ulang Aling ingin pindah wilayah ke Kabupaten Dharmasraya
Terkait dengan suara rakyat yang merupakan bukti bahwa warga masyarakat tiga nagari di Lubuk Ulang Aling ini ingin pindah wilayah ke Kabupaten Dharmasraya, saya dan teman-teman telah berhasil mengumpulkan tanda tangan masyarakat.
Jika ada yang mengatakan saya dan teman-teman melakukan penekanan dan rekayasa untuk mendapatkan tanda tangan warga tersebut, sangatlah tidak masuk akal itu bisa saya lakukan. Sebab, saya dan teman-teman sama sekali tidak punya kekuatan untuk menekan masyarakat, karena kami tidak pejabat. Bagaimana kami bisa memaksa warga masyarakat membubuhkan tangan menyatakan memilih pindah wilayah Lubuk Ulang Aling ke Kabupaten Dharmasraya, sedangkan kami bukan Wali Nagari, bukan Camat, apa lagi Bupati.
Kami yang mengumpulkan tanda tangan warga ini persis sama derajat kami dengan warga yang menandatangani surat pernyataan memilih pindah wilayah ke Dharmasraya ini.
Namun kalau ada yang masih ragu dengan keabsahan tandatangan yang kami kumpulkan sekarang ini, silakan kita ada kan semacam referendum secara independen kepada warga masyarakat di tiga nagari ini.
Dengan ini, mengingatkan kita ke era masa-masa Orde Baru dulu. Waktu di era Orba, fenomena seperti inilah yang ditanggungkan masyarakat Lubuk Ulang Aling.
Kalau ada warga Lubuk Ulang Aling yang kritis, yang menolak masyarakatnya dijadikan penonton di tengah-tengah kekayaan alamnya yang melimpah, dia akan dibenturkan atau diadu domba dengan pihak lain yang juga warga Lubuk Ulang Aling sendiri yang bisa dia jadikan sebagai jongosnya.
Dan orang-orang itu akan dengan bangga melawannya. Tanpa mereka sadari, diam-diam si pengadu domba itu bertepuk tangan kegirangan.
Sekaitan dengan ini, saya ajak kita seluruh warga tiga nagari di Lubuk Ulang Aling ini, mari kita kompak bersatu berjuang untuk masa depan anak cucu kita. Apalah artinya kita mendapatkan jabatan, uang dan fasilitas di atas penderitaan masyarakat kita.
Yakinlah bahwa arwah nenek moyang kita akan mengutuk kita, jika kita terkekeh-kekeh ketawa menikmati berbagai fasilitas dan kedudukan di atas penderitaan rakyat kita yang tidak menikmati jalan beraspal dan berbagai hal lainnya sebagai rakyat yang sudah 80 tahun lebih merdeka.
(*)
