Orang yang beriman tidak akan lelah berbuat kebajikan dan memelihara diri untuk tidak berbuat dosa. Jika seseorang merasa letih karena kebaikan, maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang dan kebaikan akan kekal. Namun jika senang melakukan kesalahan dan perbuatan dosa, maka sesungguhnya kesenangan itu akan hilang dan dosa itu akan kekal…
Oleh : Dr. H. Helmi, M.Ag
Mjnews.id – Setiap orang yang beramal itu akan diberikan imbalan sesuai dengan jenis amalannya. Sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah Swt:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ, وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat imbalannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat imbalannya pula.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8)
Amal apapun yang dilakukan, yang baik ataupun yang buruk, semua itu pasti akan mendapat imbalan yang sesuai dari Allah SWT.
Allah SWT Maha Adil, dan tidak akan pernah berbuat zalim terhadap hamba-hamba-Nya.
Ketika sesorang bangun di sepertiga malam untuk shalat tahajjud dan merenung seraya menghitung sudah berapa banyak dosa yang telah dilakukan seiring tiap hembusan nafas ? Sudahkah kita sadari bahwasanya itu adalah dosa? Sudahkah kita di saat menyadari akan sebuah dosa lalu kita memohon ampunan kepada Allah Azza wa Jalla dengan penuh penyesalan dan dibarengi dengan tetesan air mata kerinduan akan pengampunan dari Allah Azza wa Jalla? Pernahkah kita meneteskan air mata karena menyesali dosa?
Ada sebagian orang yang tetap bersikap baik kepada siapapun, dalam keadaan apapun, bahkan kepada orang yang telah menyakitinya.
Ada orang yang bisa menahan amarahnya, dan menggantikannya dengan senyuman sejuk untuk melegakan hati.
Ada orang yang senantiasa bersabar, dan pandai bersyukur, serta ikhlas menerima ketetapan-Nya.
Ada orang yang bisa menolong sesama, membantu melakukan hal-hal kecil yang ternyata kesannya sangat besar.
Ada orang yang menjadi perantara rezeki bagi orang lain yang lebih memerlukan. Menjadi pengantar kebahagiaan. Menjadi penyebar inspirasi penuh manfaat. Menjadi penyebar semangat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang maknanya, “Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari di mana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal shaleh, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun jika ia tidak memiliki amal shaleh, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zalimi.” (HR. Bukhari no. 2449)
Memaafkan dan saling meminta maaf bukan hanya sebuah tradisi sebagaimana keutamaan ikhlas dalam Islam. Namun, juga merupakan nilai yang harus ditanamkan. Islam mengajarkan sikap saling memaafkan merupakan kunci untuk menggalang persaudaraan serta menghindari api permusuhan.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang maknanya, “Sesungguhnya Allah telah memaafkan ummatku yang berbuat salah karena tidak sengaja, atau karena lupa, atau karena dipaksa.” (HR Ibnu Majah, 1675, Al Baihaqi, 7/356, Ibnu Hazm dalam Al Muhalla, 4/4, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah)
Semoga Allah SWT mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa menjadi orang yang pemaaf dan berbagi kebahagiaan kepada orang lain untuk meraih ridha-Nya…
Aamiin Ya Rabb.
Wallahua’lam bishawab
(*)
