Gerakan-gerakan ini tidak muncul begitu saja, tetapi hasil langsung dari sistem politik yang tidak mampu menyelesaikan perbedaan dengan cara terbuka dan demokratis.
Dari fakta-fakta di atas, mengira bahwa pertumbuhan ekonomi harus mengorbankan demokrasi adalah pendapat yang salah dan sangat berisiko. Stabilitas politik yang kuat bukan didapat dari cara memaksa atau menutup suara, melainkan melalui berbicara, berdiskusi, dan melibatkan semua pihak secara adil.
Keterbukaan politik tidak menghambat pertumbuhan ekonomi, justru menjadi jaminan agar pembangunan bisa berjalan adil, merata dan benar-benar membuat kehidupan rakyat banyak lebih baik.
Dalam konteks pembangunan politik dan ekonomi saat ini, kita harus mengubah cara berpikir tentang pembangunan yang lebih demokratis dan berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi tidak boleh jadi alasan untuk membenarkan pembatasan hak politik warga.
Masyarakat harus terlibat aktif, anggaran harus jelas dan transparan, orang bebas menyampaikan pendapat, serta lembaga yang mewakili rakyat harus lebih kuat. Hal-hal ini harus menjadi syarat utama dalam membentuk masa depan bangsa.
Kemakmuran ekonomi sekaligus kebebasan berpolitik
Sebagai penutup, menolak cara berpikir yang selalu mengandalkan ahli atau teknokratik ini berarti kita menolak anggapan yang salah yang justru membuat urusan makan dan kebebasan saling berbicara saling bertentangan. Sebuah negara tidak harus memilih antara satu dan lainnya, kita bisa dan harus mencapai kemakmuran ekonomi sekaligus mempertahankan kebebasan berpolitik.
Mengorbankan demokrasi hanya untuk mendapatkan stabilitas ekonomi sementara hanya akan membuat kita terjebak dalam masalah kepercayaan yang berlangsung lama. Pembangunan politik yang baik dan pertumbuhan ekonomi yang merata harus berjalan bersama, karena tidak mungkin ada kesejahteraan yang benar-benar nyata tanpa kebebasan dan keadilan bagi seluruh rakyat.
(*)
