| Ilustrasi. (pinterest.com) |
Oleh : Shofiyah Andasfi
MJNews.id – Dengan adanya kemajuan teknologi sekarang ini, dimana tidak ada batas dalam mengakses media digital, media konvensional terutama media televisi masih memiliki peran yang cukup tinggi di masyarakat. Dimana banyak masyarakat yang masih menggunakannya sebagai salah satu media utama dalam mendapatkan suatu informasi dari berbagai kalangan baik balita, anak-anak, remaja, orang dewasa hingga lansia.
Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Executive Director Media Business Nielsen Indonesia, Hellen Katerina yang mengatakan bahwa munculnya media digital sekarang ini, tidak membunuh media konvensional. Media digital justru malah meningkatkan jangkauan pemirsa dari media konvensional.
Hal ini dibuktikan riset Nielsen dalam paparan The Relationship of Digital and Convention Media dimana jangkauan media televisi masih menempati posisi tertinggi.
Akses televisi yang mudah diakses, menjadi salah satu alasan tingginya penggunaan media televisi di masyarakat. Belum lagi dengan adanya pandemi Covid-19 yang meningkatkan tingkat durasi tontonan hingga tingkat pemirsa dari media televisi.
Tentu saja pandemi berdampak kepada tingkat tersebut, karena banyaknya anak-anak yang melakukan pembelajaran secara daring. Pembelajaran yang dilakukan secara daring tentu menambah waktu anak-anak di rumah sehingga meningkatkan tingkat intensitas anak menonton televisi.
Namun yang menjadi masalah adalah dimana tingginya tingkat intensitas menonton oleh anak-anak tidak seimbang dengan apa yang ditayangkan oleh media televisi Indonesia saat ini yang lebih banyak menangkan berita, gosip dan juga sinetron.
Minimnya tayangan yang ditujukan kepada anak-anak membuat mereka mulai menjajahi tayangan-tayangan orang dewasa, dimana hal ini tidak sesuai dengan umurnya.
Banyaknya anak-anak yang lebih memilih menonton sinetron dibandingkan dengan tayangan kartun disebabkan tayangan kartun yang kurang menarik, kurang beragam dan jam tayang dari kartun yang dianggap jauh lebih sedikit dibandingan dengan tayangan tayangan lainnya.
Hal ini tentu mengakibatkan peralihan tayangan anak-anak kepada tayangan-tayangan yang tidak sesuai dengan umur mereka. Belum lagi orang tua yang tidak dapat mengontrol keseluruhan mengenai apa yang ditonton anak akibat bekerja sehingga membiarkan anak-anak yang menonton tayangan remaja hingga dewasa tanpa pengawasan khusus.
Kondisi ini akhirnya menimbulkan dampak negatif kepada anak-anak dimana mereka menjadi ‘dewasa’ sebelum waktunya. Hal-hal yang harusnya ia ketahui ketika remaja kini dapat mereka ketahui lebih cepat melalui tayangan di media televisi. Belum lagi adegan-adegan, istilah hingga bahasa yang tidak seharusnya mereka ketahui di usia anak-anak.
Di sinilah dibutuhkan peran orang sekitar dalam mengontrol tayangan yang ditonton oleh anak-anak, pentingnya pengawasan serta pembelajaran terkait apa yang mereka tonton. Peningkatan tayangan kartun juga harus terus diupayakan untuk meningkatkan tayangan yang baik dan sesuai kepada anak-anak.
Dengan ditingkatkannya tayangan kartun untuk anak-anak diharapkan dapat meningkatkan pendidikan moral yang seringkali menjadi sebuah amanat sebuah kartun serta mengembalikan tayangan anak-anak yang sesuai dengan umurnya.
Referensi :
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/02/18/media-digital-membunuh-media-konvensional
(***)
