Opini

Duet Anies-Muhaimin (AMIN), Dwi Tunggal Pemimpin Kolaboratif dan Semangat Perubahan

1013
Jazilul Fawaid (tengah) bersama Anies Baswedan dan Abdul Muhaimin Iskandar
Jazilul Fawaid (tengah) bersama Anies Baswedan dan Abdul Muhaimin Iskandar. (f/pkb)

Sedangkan Gus Imin merupakan ketua umum partai politik terlama di Indonesia setelah Ibu Megawati Soekarnoputri. PKB yang pernah mengalami krisis internal, dengan tangan dinginnya, Gus Imin berhasil membawa PKB rebound, dan kini menjadi salah satu partai besar di Indonesia. Gus Imin juga pernah menduduki berbagai posisi strategis, seperti Ketua DPR RI termuda, usia 32 tahun yang hingga saat ini rekor tersebut belum terpecahkan. Pernah pula menjabat Wakil Ketua MPR RI, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada Kabinet, dan kini kembali menjadi Wakil Ketua DPR RI.

Mas Anies dan Gus Imin juga sama-sama tokoh yang lahir dari pergolakan pemikiran. Mas Anies pernah menjadi Majelis Penyelamat Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta sementara Gus Imin merupakan aktivis ulung dan pernah menjadi ketua umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

ADVERTISEMENT

Bahkan, hingga saat ini Gus Imin masih menjadi ketua Mabinas PB PMII. Duet Mas Anies dan Gus Imin bisa juga disebut dengan Manunggaling HMI-PMII. Keduanya kenyang makan asam garam aktivisme. Pemimpin yang sama-masa lahir dari pergerakan dan pergolakan pemikiran. Pemimpin yang memang digembleng sebagai calon pemimpin besar dengan pergolakan gagasan, bukan pemimpin yang lahir dari gimmick recehan.    

Dilihat dari sisi parpol pengusungnya, yakni PKB, Partai NasDem, dan PKS adalah sama-sama parpol papan tengah yang merupakan parpol produk Reformasi. Jadi, baik sosoknya maupun parpol pengusungnya, semua produk dari era Reformasi. Pasangan AMIN berhasil memecah kebekuan status quo dengan menghembuskan angin perubahan. Ini sejalan dengan hasil survei Kedai Kopi, dimana 61% rakyat Indonesia ternyata menghendaki adanya perubahan. Hal yang tidak kalah penting adalah duet AMIN telah mematahkan isu-isu politik identitas, polarisasi antara kelompok Islam kiri dan kanan, desa dan kota, modern dan tradisional.

Gus Imin mematahkan adanya anggapan sebagian kalangan yang menyebutkan bahwa PKB dan PKS ibarat air dan minyak yang tidak akan pernah bisa menyatu dalam satu kekuatan politik. Faktanya, kini dua parpol ini menjelma dalam satu barisan kekuatan poros politik Islam. Mungkin yang juga membuat publik terkaget-kaget, dampak dari hadirnya Gus Imin dengan PKB-nya dalam Koalisi Perubahan, lagu kebanggaan warga nahdliyyin, Yahlal Waton, untuk pertama dalam sejarah, berkumandang dengan merdu di Markas Besar PKS dan dilantunkan dengan kompak oleh para elite PKS, PKB, dan NasDem. Satu pemandangan langka yang pasti membuat banyak orang geleng-geleng kepala. PKB dan PKS ternyata bisa berdampingan dengan sangat mesra.   

Komposisi parpol pengusung pasangan AMIN menjadi representasi dari kekuatan politik Islam yang punya ceruk pemilihnya sendiri-sendiri. PKB lebih banyak dipilih kelompok pemilih Islam tradisional yang banyak tersebar di pedesaan, khususnya Jawa Timur dan Jawa Tengah, sebagian Jawa Barat dan sebagian luar Jawa, sementara PKS selama ini dikenal sebagai kekuatan politik Islam perkotaan memiliki kekuatan politik di wilayah Jawa Barat, DKI, Banten, dan Sumatera. Baik PKB maupun PKS juga sama-sama dikenal memiliki basis pemilih yang loyal dan ideologis.

Kader kedua partai ini juga dikenal sangat militan. Dua kekuatan politik Islam yang menyatu ini masih ditopang dengan kekuatan politik parpol nasionalis yakni Partai Nasdem di bawah komando Pak Surya Paloh, juga sangat kuat di sejumlah wilayah, terutama di luar Jawa. Salah satunya di Sulsel yang bisa kita saksikan pada Minggu kemarin.

Dengan kolaborasi yang baik, banyak pihak yang meyakini pasangan ini bisa menjadi ”kuda hitam” dengan kekuatan yang dahsyat. Apalagi, jargon perubahan yang diusung duet AMIN ini dibangun di atas pondasi trilogi ukhuwah (persaudaraan) yakni ukhuwah wathaniyah (persaudaraan dalam ikatan kebangsaan), ukhuwah islamiyah (persaudaraan antar sesama umat Islam), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama umat manusia).

Misi perubahan yang diusung duet AMIN sebagai dwitunggal, yakni meletakkan semua kebijakan dan strategi pembangunan di atas prinsip-prinsip keadilan dan kesetaraan. Sebab, kolaboratif mensyaratkan kebersamaan dalam keadilan dan kesetaraan. Baik Mas Anies maupun Gus Imin menegaskan bahwa misi perubahan yang diusung bukan serta merta mengubah seluruh tatanan yang sudah dibangun oleh pemerintahan sebelumnya, namun perubahan yang dimaksud adalah memperbaiki hal-hal yang dianggap belum baik, dan melanjutkan tatanan yang sudah baik. Hal itu pula yang juga dilakukan Mas Anies ketika memimpin Jakarta.

Misi perubahan semacam ini tentu sejalan dengan spirit ajaran Nahdlatul Ulama (NU), yakni  “al-muhafadzah ‘ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah”. Artinya memelihara nilai, aturan, norma, yang lama yang baik, dan mengambil nilai, aturan, norma baru yang lebih baik. Terus-menerus memperbaharui dan memperbaiki apabila ada sasaran yang lebih baik, tapi tidak pernah lupa ada fondasi-fondasi kokoh yang telah dirintis dan diwariskan kepada generasi-generasi yang harus tetap dijaga dengan baik.

(***)

Penulis, Ketua IKAPTIQ, Wakil Ketua PWNU DKI Jakarta, Wakil Ketua MPR RI dan Waketum DPP PKB

Exit mobile version