Mjnews.id – Di sebuah sekolah kecil di pelosok Dharmasraya, pagi selalu dimulai dengan cara yang sama. Anak-anak berdatangan dengan seragam yang warnanya mulai pudar, membawa tas yang lebih ringan daripada mimpi yang mereka pendam.
Sebelum lonceng berbunyi, sebagian dari mereka berdiri di dekat pagar bambu, mengangkat telepon seluler ke arah langit seperti sedang memanggil sesuatu. Sesuatu yang belum tentu datang: sinyal.
Bagi sekolah-sekolah seperti ini, ketidakpastian adalah teman lama. Internet yang tak pernah stabil, buku yang terbatas, guru yang harus mengajar lebih dari satu mata pelajaran, hingga bangunan yang lebih akrab dengan perbaikan swadaya ketimbang perhatian pemerintah.
Tetapi meski serba kurang, anak-anak itu tetap datang setiap hari karena sekolah adalah satu-satunya ruang di mana mereka merasa dunia masih mungkin memberi kesempatan.
Ketika Dharmasraya dipimpin oleh Bupati Annisa Suci Ramadhani, pendidikan menjadi hal pertama yang disentuh. Bukan dari sekolah-sekolah terbaik, bukan dari ruang kelas yang sudah lengkap, tetapi justru dari tempat-tempat yang paling jauh. Dari titik-titik yang selama ini dianggap biasa-biasa saja untuk dibiarkan tertinggal.
Dinas Pendidikan Dharmasraya Petakan 17 Sekolah Blankspot
Di bawah koordinasi Dinas Pendidikan, 17 sekolah blankspot dipetakan satu per satu. Cerita mereka mirip akses sulit, internet tak pernah pasti, dan anggaran BOS yang kecil membuat sekolah-sekolah ini tertinggal lebih jauh.
Dari sinilah kebijakan berani lahir yakni pengadaan Starlink, lengkap dengan biaya bulanan yang ditanggung pemerintah daerah. Untuk pertama kalinya, sekolah-sekolah kecil itu tersambung dengan dunia yang lebih besar.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan, Bobby Perdana Riza, menyebut langkah ini sebagai upaya mengejar ketertinggalan yang sudah terlalu lama dibiarkan.
“Bagaimana anak-anak bisa melek digital kalau sinyal saja menjadi barang mewah?” ujarnya.
Kini, anak-anak yang dulu mengangkat gawai ke langit itu bisa membuka materi pelajaran tanpa menunggu angin berhenti. Mereka bisa mengikuti bimbingan online, melihat video pembelajaran, bahkan mengikuti kegiatan coding dan AI yang mulai diperkenalkan sebagai bagian dari ekstrakurikuler baru.
Wajah-wajah yang dulu terbiasa pasrah pada keterbatasan perlahan berubah: menjadi ingin tahu, berani mencoba, dan lebih percaya diri.
