Menurut Teguh, pengadaan makanan bergizi (MBG) di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor, seperti kasus stunting, gizi, anemia, dan ketidakstabilan ekonomi.
“BGN meningkatkan akses makanan bergizi,” tegasnya.
Teguh juga menyebutkan bahwa MBG tidak hanya memberikan makanan, tetapi juga membantu membuka lapangan pekerjaan.
“Target kami 20.000 sentra program pangan bergizi (SPPG),” ungkapnya.
Ia juga menyoroti kebiasaan makan anak-anak. “Kita sering tidak melihat makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak di sekolah, karena itu program tersebut hadir juga sebagai kontrol agar makanan tersebut merupakan makanan yang sehat,” kata Teguh.
Teguh berharap makan bergizi gratis tersebut bisa menjadi kebiasaan yang bisa diteruskan di rumah dan oleh orang tua siswa nantinya untuk memberikan menu yang sehat untuk anaknya.
(jef)
