BeritaInternasionalKabupaten Dharmasraya

Jejak Emosional Pemuda ASEAN di Ranah Minang dan Peran Sunyi Dharmasraya yang Tak Banyak Tercatat

548
Sekretaris KNPI Dharmasraya, Rifdal Fadli bersama KNPI Sumatera Barat di pertemuan Forum Pemuda ASEAN 2025
Sekretaris KNPI Dharmasraya, Rifdal Fadli bersama KNPI Sumatera Barat di pertemuan Forum Pemuda ASEAN 2025. (f/ist)

Mjnews.id – Bandara Internasional Minangkabau di Padang Pariaman, Sumatera Barat, pada Minggu 23 November 2025 pagi, yang biasanya tenang itu tiba-tiba berubah menjadi lautan warna. Bendera-bendera kecil dari 11 negara ASEAN berkibar di tangan para delegasi muda yang baru turun dari pesawat. Wajah-wajah asing itu menatap sekeliling udara asin dari pesisir Kota Padang, angin lembut yang menyambut, dan senyum para panitia yang berdiri di pintu kedatangan.

Hari itu, Minangkabau tidak sekadar menjadi tempat singgah ia menjadi pusat dunia kecil, di mana mimpi-mimpi 60 pemuda lintas bangsa bertemu dalam satu ruang bernama Forum Pemuda ASEAN 2025.

ADVERTISEMENT

Namun, cerita sejatinya tidak hanya terjadi di panggung resmi. Ia lahir dari perjalanan, dari tatapan mata, dari percakapan-percakapan kecil yang luput dari kamera. Dan di sanalah Dharmasraya mengambil perannya diam, namun menentukan.

Dalam pembukaan forum, ketika para delegasi mendengarkan sambutan-sambutan resmi, beberapa dari mereka tampak terharu. Bukan karena seremonialnya tetapi karena cerita yang dibagikan para pemuda Sumatera Barat tentang perjuangan mereka menjaga budaya, menghidupkan UMKM, dan bertahan di tengah ketidakpastian zaman.

Sekretaris KNPI Dharmasraya, Rifdal Fadli bersama KNPI Sumatera Barat di pertemuan Forum Pemuda ASEAN 2025. (f/ist)

Salah satu delegasi dari Filipina menghela napas panjang usai sesi panel. “Ada kehangatan yang tidak kami temukan di konferensi lain. Seperti pulang ke rumah yang tidak pernah kami kunjungi sebelumnya,” ungkap delegasi tersebut.

Forum ini memang besar. Ada Duta Besar, ada pimpinan DPR RI, ada pejabat negara. Tetapi hal yang justru melekat di ingatan para delegasi bukanlah megahnya acara melainkan momen kecil di luar gedung, ketika cerita budaya Minangkabau dibisikkan seperti kisah keluarga.

Salah satu sesi yang paling emosional terjadi saat delegasi ASEAN dibawa ke tempat makan tradisional Minang. Ketika filosofi alam takambang jadi guru dijelaskan, seorang delegasi Malaysia meneteskan air mata.

“Kami selalu berbicara tentang masa depan, teknologi, ekonomi digital. Tapi Minangkabau mengingatkan kami bahwa identitas manusia adalah rumah pertama dari semua gagasan,” katanya.

Pesona Pemuda Dharmasraya

Ketika masyarakat sibuk membicarakan pejabat yang hadir, banner besar, dan pidato para VIP, KNPI Dharmasraya quietly took the spotlight behind the scene (KNPI Dharmasraya diam-diam menjadi pusat perhatian di balik layar).

Rifdal Fadli, Sekretaris KNPI Dharmasraya, menjadi semacam jembatan emosional yang tidak tertulis dalam run down. Ia bercerita tentang Dharmasraya tentang tanah yang sedang bertumbuh, tentang anak-anak muda yang sedang mencari arah, tentang masalah-masalah yang tidak bisa dimarahi tapi harus dipahami.

Dalam satu momen di sela-sela kunjungan, seorang delegasi Thailand berkata pada Rifdal. “Teman, kau bicara tentang daerahmu seakan itu sebuah puisi. Rasanya aku ingin melihatnya sendiri,” ujarnya bersemangat.

Di situ Rifdal hanya tersenyum. Ia tahu, diplomasi paling kuat adalah diplomasi yang tidak merasa sedang berdiplomasi.

Salah satu titik paling emosional selama forum terjadi pada malam kedua di Bukittinggi. Para delegasi duduk melingkar di pelataran Taman Jam Gadang. Lampu-lampu kota menyinari wajah mereka yang lelah, tetapi bahagia.

Exit mobile version