Malam itu, diskusi tidak terasa seperti forum formal organisasi. Ia lebih menyerupai ruang bersama tempat anak-anak muda mencoba memahami luka yang dialami saudara sebangsa mereka di ujung timur Indonesia.
Di sisi lain, kegiatan yang digagas kader-kader hijau hitam itu juga mendapat apresiasi dari para senior. Sekretaris KAHMI Dharmasraya, Rifdal Fadli, menilai forum semacam ini penting untuk menjaga daya kritis mahasiswa agar tidak kehilangan sensitivitas sosial.
“Kami selaku alumni akan selalu mendukung kegiatan adik-adik mahasiswa selama hal itu berdampak positif dan membangun daya kritis mereka,” tutur Rifdal.
Menjelang malam berakhir, suasana kembali mencair. Gelak tawa mulai terdengar, kopi kembali diteguk perlahan, dan para peserta berkumpul untuk berfoto bersama.
Namun ada satu hal yang tampaknya tertinggal di kepala banyak orang malam itu, kesadaran bahwa di balik gemerlap pembangunan, masih ada cerita tentang tanah yang dipertahankan, hutan yang dijaga, dan manusia-manusia yang berjuang agar tidak hilang dari tanahnya sendiri.
(Sutan)
