BeritaKabupaten Dharmasraya

Ketika Hutan Tak Lagi Menjadi Rumah: Pesan Sunyi dari Pawai Budaya Sikabau

41
Pawai Budaya Sikabau
Pawai Budaya Sikabau tahun 2026. (f/sutan sari alam)

Harapannya sederhana. Persoalan lahan jangan sampai berujung pada hilangnya ruang hidup masyarakat SAD.

Ia berharap pemerintah dapat membantu mencari jalan keluar sehingga persoalan tersebut tidak berkembang menjadi gugatan dan konflik baru.

ADVERTISEMENT

“Kalau bisa dibantu, kami terima bantuan seperti apa pun. Supaya tidak ada gugatan,” tuturnya.

Suara serupa datang dari Nasir, anggota komunitas SAD lainnya.

Ia menyebut keberadaan komunitas SAD di kawasan hutan tersebut bukan sesuatu yang baru. Mereka telah hidup di sana selama puluhan tahun, bahkan melewati beberapa generasi.

“Sudah sangat lama, sudah tidak tahu berapa generasi. Yang jelas sudah sekian puluhan tahun,” katanya.

Bagi Nasir, keberadaan mereka juga tidak terlepas dari sejarah hubungan dengan masyarakat adat Nagari Sikabau.

Karena itu, ketika ruang hidup mereka berada di tengah persoalan lahan, pilihan mereka pun jelas.

“Kami akan mendukung,” ungkapnya.

Pawai budaya itu akhirnya berubah menjadi semacam panggung terbuka bagi masyarakat Sikabau untuk menyampaikan kegelisahan mereka.

Tidak ada pengeras suara besar yang meneriakkan protes. Tidak ada spanduk panjang yang memenuhi jalan. Pesannya justru disampaikan melalui simbol, kostum, dan kreativitas anak nagari.

Di balik tawa dan kemeriahan pawai, terselip pertanyaan yang serius. Jika hutan terus berubah, ke mana satwa akan pulang?

Jika ruang hidup semakin sempit, ke mana masyarakat yang telah puluhan tahun tinggal di sana akan pergi?

Dan yang paling penting, siapa yang akan memastikan bahwa pembangunan tidak menghapus kehidupan yang lebih dulu ada?

Exit mobile version