BeritaKota Payakumbuh

Kelurahan Sawah Padang Aua Kuniang Payakumbuh Maju ke Lomba Tingkat Nasional

26
Wawako Payakumbuh, Elzadaswarman bersama Lurah Sawah Padang Aua Kuniang, Deop Darius dalam tahapan Pemaparan dan Wawancara Calon Juara Penjaringan Desa dan Kelurahan Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2026
Wawako Payakumbuh, Elzadaswarman bersama Lurah Sawah Padang Aua Kuniang, Deop Darius dalam tahapan Pemaparan dan Wawancara Calon Juara Penjaringan Desa dan Kelurahan Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2026. (f/pemko)

Mjnews.id – Kelurahan Sawah Padang Aua Kuniang tampil meyakinkan saat memaparkan segudang inovasinya dalam tahapan Pemaparan dan Wawancara Calon Juara Penjaringan Desa dan Kelurahan Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2026.

Presentasi inovasi terintegrasi yang mencakup sektor pelayanan publik, lingkungan, kesehatan, hingga penguatan ekonomi masyarakat tersebut digelar di Aula Josrizal Zain, Balai Kota Payakumbuh, Rabu (7/10/2026).

ADVERTISEMENT

Salah satu capaian paling menonjol yang dipresentasikan adalah pengelolaan sampah organik. Inovasi kelurahan ini sukses mendongkrak produksi pupuk kompos dari yang semula hanya 300 kilogram melonjak tajam menjadi 8 ton per minggu. Secara ekologis, program masif ini terbukti mampu menekan volume residu yang bermuara ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Payakumbuh hingga dua ton per harinya.

Lurah Sawah Padang Aua Kuniang, Deop Darius menegaskan, setiap program yang diluncurkan murni dikembangkan berdasarkan pemetaan potensi dan kebutuhan riil warga di lapangan.

“Kami berupaya agar inovasi tidak berhenti sebagai kegiatan semata, tetapi memberikan manfaat dan nilai tambah bagi masyarakat,” katanya.

Pada sektor administrasi, kelurahan ini mengusung terobosan Sapaku Kece yang terbukti ampuh memangkas waktu pelayanan publik dari 45 menit menjadi hanya 10 menit. Langkah digitalisasi ini turut diperkuat melalui kehadiran Taman Digital, Peta Digital Sapaku, serta pemutakhiran data kependudukan secara presisi melalui inovasi Sang Utama.

“Kami ingin pelayanan lebih cepat sekaligus ditopang data yang terus diperbarui agar program pemerintah lebih tepat sasaran,” ujar Deop.

Bergerak ke sektor pelestarian alam, kelurahan menginisiasi program Sapaku Tanggap yang mendorong budaya pemilahan dan pengolahan sampah sejak dari sumbernya. Sampah organik inilah yang kemudian disulap menjadi pupuk untuk menyokong kebutuhan petani lokal.

Sementara itu, guna memperkuat ketahanan pangan dan meredam laju inflasi, terobosan Sapaku Tampan sukses menyulap 4,1 hektare lahan tidur pada 2025 menjadi kawasan produktif yang menghasilkan perputaran uang hingga Rp318 juta. Keberhasilan ekonomi sirkular ini digerakkan melalui kolaborasi erat Kelompok Tani, Kelompok Wanita Tani (KWT), PKK, dan elemen Dasawisma.

Potensi ekonomi lokal juga terus diakselerasi melalui pembentukan Kampung Bambu yang memberdayakan 95 kepala keluarga, serta Kampung Itik yang difokuskan pada sektor peternakan telur dan hilirisasi produk olahannya.

“Potensi pertanian, bambu, itik, dan UMKM kami dorong menjadi sumber pendapatan yang dapat memperkuat ekonomi keluarga,” papar Deop.

Exit mobile version