BeritaPendidikanSumatera Barat

Prof. Mahyudin Ritonga: Guru Garda Terdepan Wujudkan Moderasi Beragama di Madrasah

492
Penguatan Pemahaman Nilai Moderasi Beragama bagi guru MAN IC Padang Pariaman di The ZHM Premiere Hotel Padang
Penguatan Pemahaman Nilai Moderasi Beragama bagi guru MAN IC Padang Pariaman di The ZHM Premiere Hotel Padang. (f/ist)

Implementasi Konkret dalam Pembelajaran di Kelas

Bagian paling aplikatif dari paparan Prof. Mahyudin adalah ketika beliau memberikan contoh-contoh konkret bagaimana mengintegrasikan nilai moderasi beragama ke dalam berbagai mata pelajaran di madrasah. Hal ini menunjukkan bahwa moderasi bukanlah teori usang, melainkan sesuatu yang dapat hidup dalam kurikulum pembelajaran.

“Integrasi ini bisa dilakukan secara lintas mata pelajaran, tidak terbatas pada pelajaran agama saja. Nilai-nilai seperti tawazun (keseimbangan), tasamuh (toleransi), dan amanah (kepercayaan) bisa disisipkan dalam berbagai konteks,” jelasnya.

ADVERTISEMENT

Beliau memberikan sejumlah contoh inovatif, dalam mengintegrasikan moderasi pada beberapa mata pelajaran seperti integrasi moderasi dengan materi al-Qur’an Hadis, Aqidah Akhlak, Fikih, Sejarah Kebudayaan Islam, Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, Matematika. Yang pada intinya, semua mata pelajaran dapat diintegrasikan dengan nilai moderasi.

Guru sebagai Teladan dan Fasilitator

Prof. Mahyudin sangat menekankan peran guru sebagai kunci keberhasilan implementasi moderasi beragama. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar (transfer of knowledge), tetapi lebih sebagai fasilitator dan yang terpenting, teladan (role model) bagi siswanya.

“Anak didik kita lebih banyak belajar dari melihat dan mencontoh daripada sekadar mendengar. Karena itu, guru harus menjadi contoh nyata dari sikap moderat, terbuka, menghargai perbedaan, dan mampu mengelola diskusi dengan bijak,” ujar Prof. Mahyudin.

Guru dituntut untuk menciptakan ruang belajar yang aman dan nyaman, di mana setiap siswa bebas bertanya, mengemukakan pendapat, dan berdialog tanpa takut dihakimi. Metode pembelajaran interaktif, kontekstual, dan berbasis diskusi kelompok (Focus Group Discussion) menjadi strategi yang sangat dianjurkannya.

Antusiasme Guru dan Harapan ke Depan

Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang acara. Para guru MAN IC aktif mengajukan pertanyaan dan memberikan tanggapan yang kritis dan mendalam terhadap materi yang disampaikan. Diskusi berlangsung hidup, menandakan keseriusan mereka dalam memahami dan menerapkan moderasi beragama di madrasah.

Kegiatan yang berlangsung selama satu hari penuh ini diharapkan tidak berhenti sebagai seremonial belaka, tetapi menjadi trigger (pemicu) untuk aksi-aksi nyata di dalam kelas dan lingkungan madrasah.

MAN Insan Cendekia sebagai lembaga pendidikan unggulan diharapkan dapat menjadi model dan epicentrum dalam menyebarkan nilai-nilai moderasi beragama kepada madrasah dan sekolah lainnya di Sumatera Barat bahkan Indonesia.

Prof. Dr. Mahyudin Ritonga menutup paparannya dengan pesan yang menggaungkan harapan.

“Moderasi beragama adalah kunci perdamaian di Indonesia yang majemuk. Dengan mengedepankan dialog, toleransi, dan keadilan, yang dimulai dari ruang-ruang kelas kita, kita bisa membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijak dan manusiawi dalam bersosialisasi, untuk akhirnya mewujudkan masyarakat Indonesia yang harmonis dan berperadaban,” pesannya.

(*)

Exit mobile version