Surat itu diterbitkan pada 1 Oktober, namun baru diterimanya pada 24 Oktober 2025. Lebih dari tiga minggu lamanya, ia bekerja tanpa tahu dirinya sudah bukan lagi ASN. “Saya seperti dibuang diam-diam,” ucapnya pelan.
Sebelum terima SK pemberhentian itu, Nike pernah mengadu ke berbagai pihak. Ia mengirim surat kepada Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan Gubernur Sumatera Barat pada 21 April 2025, menjelaskan dugaan diskriminasi yang dialaminya. Namun, tak satu pun dari kedua instansi itu memberi tanggapan.
“Saya tunggu berbulan-bulan, tapi tak ada kabar. Akhirnya saya pasrah, sampai tiba-tiba SK pemberhentian itu keluar. Saya seolah tidak dianggap ada,” katanya menunduk.
Kini, dengan status janda dan seorang anak kecil yang masih harus sekolah, dunia Nike serasa runtuh. Gaji ASN yang dulu jadi penopang hidup, kini tak lagi ia miliki. “Saya cuma pegawai rendahan, gaji saya tidak seberapa. Tapi dari situ saya bisa bayar sekolah anak, bisa makan, bisa hidup. Sekarang, saya tidak tahu harus mulai dari mana,” ucapnya menahan tangis.
Kedatangannya ke Kantor PWI Sumatera Barat hari itu bukan untuk mencari simpati, tapi tempat terakhir mengadu. “Saya tidak tahu harus kemana lagi. Sudah saya laporkan secara resmi, tapi tidak ada jawaban. Saya hanya ingin cerita ini didengar, supaya ada yang peduli,” tuturnya.
Air matanya menetes saat ia mengingat ucapan anaknya di rumah. “Anak saya bilang, ‘Bu, ibu kok nggak kerja lagi? Teman-teman bilang ibu sekarang di rumah terus.’ Saya jawab, ibu lagi capek. Tapi sebenarnya, saya menangis setiap kali dia bertanya.”
Setiap malam, ia memandangi seragam dinas yang masih tergantung rapi di lemari. Seragam itu, dulu kebanggaan keluarganya. Kini, menjadi pengingat pahit tentang pengabdian yang tak dihargai. “Saya dulu sangat bangga jadi ASN. Orang tua saya menangis bahagia waktu saya diangkat. Tapi sekarang, saya malah dihapus tanpa alasan,” katanya pelan.
Meski hancur secara batin, Nike belum sepenuhnya kehilangan harapan. Ia percaya, kebenaran akan muncul pada waktunya. “Saya tidak minta dikasihani. Saya cuma ingin tahu, apa kesalahan saya. Kalau saya memang salah, saya siap diperiksa. Tapi jangan begini caranya. Jangan buat saya seolah tidak pernah mengabdi,” ujarnya dengan nada tegas yang disertai isak tertahan.
Bagi rekan-rekan kerjanya, sosok Nike dikenal disiplin dan lembut hati. Salah seorang mantan rekan di kecamatan yang enggan disebut namanya mengatakan, “Nike itu rajin dan tidak pernah bikin masalah. Kami semua kaget waktu dengar dia diberhentikan. Tidak ada alasan yang jelas.”
Kisah ini bukan sekadar potret seorang ASN yang kehilangan pekerjaannya. Ini adalah cermin buram birokrasi — tempat di mana kekuasaan kadang lebih kuat dari keadilan, dan suara lemah sering tak terdengar.
