OlahragaParlemenSumatera Barat

Lestarikan Warisan Budaya Minangkabau, Evi Yandri Kembali Gelar Festival Sipak Rago se-Sumbar

19
Wakil Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat, Evi Yandri Rajo Budiman saat pembukaan Festival Sipak Rago se-Sumbar
Wakil Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat, Evi Yandri Rajo Budiman. (f/ist)

Mjnews.id – Komitmen melestarikan budaya tradisional Minangkabau terus diwujudkan Wakil Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat, Evi Yandri Rajo Budiman. Melalui dukungan dana pokok pikiran (Pokir), Festival Sipak Rago se-Sumatera Barat kembali digelar pada Sabtu-Minggu (11–12/7/2026) dengan memperebutkan Piala Bergilir Evi Yandri Rajo Budiman.

Festival bertema “Lestarikan Budaya dengan Permainan Anak Nagari Sipak Rago” tersebut diikuti oleh 28 tim dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Barat. Kegiatan dibuka langsung oleh Evi Yandri di Gedung Rohana Kudus, Kota Padang, Sabtu (11/7/2026).

ADVERTISEMENT

Evi Yandri menjelaskan, penyelenggaraan tahun ini merupakan tahun kelima festival didukung melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang bersumber dari dana Pokir DPRD Sumbar. Namun, kegiatan tersebut sebenarnya telah dimulai sejak 2015 dengan pembiayaan secara swadaya.

“Festival ini sudah kami laksanakan sejak 2015 dengan dana seadanya. Alhamdulillah, sejak mendapat dukungan APBD melalui dana Pokir, pelaksanaannya semakin baik dan tahun ini menjadi penyelenggaraan resmi yang kelima,” ujarnya.

Menurut Evi, pelaksanaan festival merupakan bagian dari upaya menjaga eksistensi Sipak Rago yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia agar tetap lestari dan dikenal generasi muda.

Ia menuturkan, Sipak Rago merupakan cikal bakal olahraga sepak takraw, namun memiliki filosofi yang berbeda. Jika sepak takraw berorientasi pada kompetisi untuk mengalahkan lawan, Sipak Rago lebih mengedepankan kerja sama, kekompakan, dan kebersamaan antarpemain.

“Dalam Sipak Rago, para pemain saling bekerja sama agar bola tidak jatuh ke tanah. Nilai yang dibangun adalah gotong royong, kekompakan, ketangkasan, serta semangat saling membantu. Tidak ada semangat saling mengalahkan ataupun balas dendam,” jelasnya.

Ia menambahkan, permainan tradisional tersebut juga mengajarkan para pemain untuk selalu memberikan umpan terbaik kepada rekannya, meskipun menerima bola dalam kondisi sulit.

Selain memiliki nilai budaya yang tinggi, Sipak Rago juga menyimpan sejarah perjuangan masyarakat Minangkabau pada masa penjajahan Belanda. Saat itu, permainan ini menjadi cara para pemuda berlatih ketangkasan dan silat tanpa menimbulkan kecurigaan penjajah.

“Dulu Belanda melarang masyarakat Minang berlatih bela diri. Melalui Sipak Rago, mereka mengira kita hanya bermain bola, padahal sekaligus melatih ketangkasan dan silat,” ungkap Evi.

Exit mobile version