PendidikanSolok SelatanSumatera Barat

Penerapan Kurikulum Merdeka di Solok Selatan, Syamsuria: Guru Perlu Peningkatan Kompetensi

666
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Solok Selatan, Syamsuria
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Solok Selatan, Syamsuria. (f/susriati)

Solok Selatan, Mjnews.id – Forum bersama IGTK, KKG, KKKS dan MKKS se-Kecamatan Sungai Pagu, yang diadakan di UPT SDN 05 Pasar Muara Labuh, Rabu (15/03/2023), dibuka Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Solok Selatan, Syamsuria, S.Pd. MM.

Ketika diwawancarai, Syamsuria mengatakan bahwa tujuannya untuk melihat kemampuan guru dalam menerapkan kurikulum baru yaitu kurikulum Merdeka. Apakah guru-guru sudah mengetahui dan memahaminya atau belum, itu salah satu yang dikondisikan. Kenyataanya, setelah turun ke lapangan dan ditinjau melalui forum ini, ternyata ada yang tahu dan ada yang belum. Apabila dipersenkan sekitar 50 persen.

ADVERTISEMENT

Kendalanya adalah dengan sistim kurikulum Merdeka ini guru-guru disuruh belajar mandiri, kalau saja guru-guru ini rajin mengikuti secara online, kita pastikan akan bisa menerapkan pada anak didik. Kalau yang tidak aktif mengikuti online, disebabkan waktu yang tidak mencukupi, karena di sekolah guru-guru sudah mengajar, maka waktu untuk memahami dan belajar pembelajaran kurikulum baru ini sedikit.

Dijelaskan Syamsuria, para guru ini kurang memahami, tentunya nanti hasil yang diharapkan tidak sesuai. Setelah saya turun dan melihat ada hal-hal yang harus dibenahi akan dibenahi. Dalam tahun 2023 ini akan memanggil guru-guru dan diberi pelatihan, diberikan informasi cara pengelolaan kurikulum Merdeka, apa itu kurikulum Merdeka.

Lebih lanjut, berdasarkan program pemerintah, pada 2024 seluruh Indonesia harus memberlakukan kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka ini ada tiga tingkat, Merdeka Belajar, Merdeka Berbagi, Merdeka Mandiri. Ketiga-tiganya sekolah berhak memilih, mana yang harus diberlakukan. Akan tetapi yang paling mudah itu adalah Merdeka Belajar, baru masuk kepada Merdeka Berbagi, setelah itu Merdeka Mandiri. Dengan itu mereka harus mempersiapkan guru perangkat pembelajarannya.

“Sementara kebanyakan dari guru-guru ini masih belum menguasai perangkat pembelajaran di kurikulum Merdeka. Perangkat pembelajaran di kurikulum 13 itu berbeda, bedanya kalau di kurikulum Merdeka ini untuk anak kelas 1 SD ini tidak tema saja, sudah harus per mata pelajaran mengajarnya,” ujarnya.

Guru SD ini, dia selaku wali kelas, akan tetapi seluruh bidang sudah diajarkan seluruh mata pelajaran satu persatu setiap hari, tidak gabung lagi materinya.

“Dengan ini, kita harus menambah peningkatan kompetensi guru,” tutup Syamsuria.

(sus)

Exit mobile version